Resonance: A Plague Tale Legacy Review: Prequel Terbaik yang Wajib Dimainkan

Penulis: Dedi Supriadi  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:32:01 WIB
Warga mengamati demonstrasi permainan video Resonance: A Plague Tale Legacy dalam sebuah acara peluncuran di Manado, Sulawesi Utara.

SULAWESI UTARA — Resonance: A Plague Tale Legacy bukan sekadar prequel pelengkap. Game besutan Asobo Studio ini justru tampil sebagai entri terbaik dalam seri Plague Tale, membuktikan bahwa cerita latar bisa berdiri kuat tanpa bergantung pada nostalgia. Kami berkesempatan memainkan versi pra-rilis yang diberikan Asobo Studio untuk keperluan ulasan ini.

Mengapa Cerita Prequel Ini Berbeda

Alih-alih sekadar menempelkan karakter ke dalam timeline lama, Resonance membangun fondasi naratif yang solid. Pemain akan mengendalikan Sophia muda, yang masa kecilnya dihabiskan di lingkungan keras sebuah rumah ibadah. Rangkaian suntikan eksperimental yang ia terima memicu mimpi buruk berulang tentang sebuah pulau misterius, yang kemudian membawanya pada pencarian jati diri.

Pulau tersebut menjadi jembatan antara mitologi Yunani kuno—kisah Theseus dan Minotaur—dengan elemen Prima Macula yang sudah dikenal penggemar. Kemampuan unik Sophia untuk melihat masa lalu Theseus melalui artefak tertentu menjadi mekanik naratif yang dieksekusi dengan cerdas. Alur cerita ganda yang berjalan selama lebih dari 10 bab ini terasa intens tanpa kehilangan momen hening yang justru memperkuat atmosfer.

Celah logika kecil memang ada, terutama saat musuh tiba-tiba muncul di area yang secara naratif seharusnya terkunci selama berabad-abad. Namun, hal ini tidak cukup signifikan untuk merusak pengalaman bercerita yang secara keseluruhan memuaskan.

Pertarungan yang Lebih Agresif dan Responsif

Perubahan paling mencolok ada pada sistem kombat. Jika Amicia di seri sebelumnya mengandalkan ketapel dan taktik siluman, Sophia datang dengan pendekatan yang jauh lebih frontal. Mekanik parry berbasis timing menjadi inti pertarungan; berhasil memblokir serangan musuh akan mengisi stun meter yang membuka peluang untuk melancarkan Critical Strike.

Transisi dari mode siluman ke pertarungan jarak dekat terasa mulus. Kami tidak menemukan momen di mana kontrol terasa kaku atau tidak responsif, bahkan saat harus berpindah cepat antara menghindar dan menyerang. Setiap pedang yang bisa dikoleksi memiliki karakteristik unik yang memengaruhi gaya bermain, menambah kedalaman pada sistem yang sudah solid.

Satu-satunya catatan kecil adalah mekanik rope hook yang terasa statis. Interaksi dengan tali panjat dan ayunan tidak memiliki variasi, membuat eksplorasi vertikal terasa linear. Ini kontras dengan desain puzzle yang justru mendapat perhatian besar.

Puzzle Cahaya dan Notebook: Dua Sisi Mata Uang

Puzzle di Resonance berkembang signifikan dibanding pendahulunya. Fokus utama bergeser ke mekanik cahaya directional—pemain harus mengatur sudut pantulan cermin atau prisma untuk membuka jalan. Sistem ini menuntut ketelitian; terkadang pergeseran beberapa derajat saja sudah cukup untuk membuat solusi menjadi jelas.

Yang menarik, petunjuk lingkungan diberikan secara halus tanpa perlu tutorial teks yang menggurui. Namun, ketergantungan pada notebook Sophia sebagai penanda solusi terasa timpang. Di awal permainan, buku catatan ini berfungsi sebagai alat bantu opsional, tetapi seiring berjalannya waktu, ia berubah menjadi elemen wajib yang sedikit mengurangi kepuasan memecahkan teka-teki secara mandiri.

Performa Mulus di PC, Grafis Sinematik

Asobo Studio kembali menunjukkan keahliannya dalam meracik visual. Dunia yang menampilkan dua periode waktu—masa kini Sophia dan era Yunani kuno—dihadirkan dengan detail yang memanjakan mata. Kami beberapa kali berhenti sejenak untuk mengagumi pemandangan, terutama pada segmen yang berlatar reruntuhan Minoa.

Dari sisi teknis, performa game ini tergolong solid. Pada pengujian dengan laptop RTX 4060 di resolusi 1080p serta PC desktop RTX 5080 di 4K, keduanya memakai preset Ultra dengan DLSS Quality atau Balanced, frame rate tidak pernah turun di bawah 60 fps. Bahkan, dengan bantuan frame generation, angka tersebut bisa menembus 100 fps. Perlu dicatat bahwa kami belum menguji versi Xbox, tetapi informasi yang kami terima menyebutkan target 60 fps dengan resolusi 4K dinamis.

Kesimpulan: Layak Beli untuk Siapa?

Resonance: A Plague Tale Legacy adalah rekomendasi wajib bagi pemain yang mencari pengalaman naratif mendalam dengan mekanik gameplay yang matang. Game ini bukan untuk mereka yang menginginkan aksi tanpa henti ala game shooter, melainkan untuk Anda yang menghargai alur cerita yang menyentuh, puzzle yang dirancang apik, dan dunia yang indah untuk dijelajahi.

Sebagai prequel, game ini berhasil melakukan apa yang jarang dicapai game sejenis: memperkaya cerita utama tanpa terasa dipaksakan. Ini adalah pencapaian terbaik Asobo Studio sejauh ini, dan menandai awal yang menjanjikan untuk babak berikutnya dari waralaba Plague Tale.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: windowscentral.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top