MANADO — Tepuk tangan dan sorotan kamera mengiringi langkah Daniela Vanessa Wowor SH saat mengenakan toga pada prosesi wisuda Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Agustus 2026. Di antara ratusan wisudawan, Tata mencuri perhatian bukan hanya karena IPK 4,00, tetapi juga rekam jejak kepemimpinan yang membawanya hingga ke tingkat Asia.
Setelah toga dilepas, perjalanan Tata belum selesai. Ia dijadwalkan menuju Korea Selatan untuk menghadiri serah terima jabatan sebagai Presiden ALSA (Asian Law Students' Association), organisasi yang mewadahi mahasiswa hukum dari berbagai negara di Asia. Posisi ini diraihnya melalui proses pemilihan ketat pada 2025.
Kisah Tata tidak dimulai di ruang kuliah. Sang ayah, Patrick Wowor, mengenang putrinya sebagai sosok dengan rasa ingin tahu tinggi dan keberanian mencoba banyak hal sejak kecil. Di bangku sekolah dasar, Tata sudah menorehkan prestasi lewat lomba vokal grup Piala Gubernur.
Jejak seninya terus berkembang. Saat di SMP Don Bosco Manado, ia meraih medali perak Festival Choir di Singapura. Kemampuan tampil di depan publik itu semakin terasah ketika ia dipercaya menjadi Ketua OSIS di SMA Kristen Manado, belajar memimpin dan mengambil keputusan di tengah beragam karakter.
Di Fakultas Hukum Unsrat, Tata menemukan arena yang sesuai dengan karakternya: debat. Ia tidak sekadar belajar teori dari buku, tetapi turun ke berbagai kompetisi untuk menguji kemampuan berpikir kritisnya. Puncaknya, ia berhasil meraih Juara 1 Lomba Debat Hukum Piala Mahkamah Agung RI.
Pengalaman Tata tidak berhenti di kompetisi nasional. Ia beberapa kali dipercaya membawa nama FH Unsrat dalam lomba debat hukum di Pulau Jawa hingga ajang luar negeri. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam menyusun argumentasi, berbicara persuasif, dan bekerja dalam tim.
Kapasitas internasionalnya juga diperkuat dengan pengalaman akademik selama satu semester di Durham University, Inggris. Ia juga pernah merasakan pendidikan di lingkungan pergaulan global, yang mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang sebelum akhirnya dipercaya memimpin ALSA.
Bagi Tata, kampus bukan hanya tempat mengejar gelar. Kampus adalah ruang untuk membuka pintu menuju pengalaman baru dan menguji kemampuan diri di lingkungan yang lebih luas.
Patrick Wowor melihat ada nilai keluarga yang ikut membentuk karakter putrinya. Semangat pantang menyerah diwariskan dari sang opa, Ben Wowor, yang dikenal sebagai saksi sekaligus penulis utama sejarah perjuangan dalam Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946 di Sulawesi Utara.
Sementara sisi seni Tata tumbuh dari keluarga sang mama, Penatua Dr. Grace J. Waleleng, M.Si. Musik menjadi bagian lain dari dirinya. Gitar, piano, keyboard hingga biola pernah disentuhnya, seolah membuktikan bahwa prestasi tidak harus lahir dari satu bidang saja.
Di satu sisi ada hukum dan argumentasi. Di sisi lain ada musik dan seni. Di tengahnya ada organisasi dan kepemimpinan. Semua berpadu menjadi perjalanan seorang anak muda yang terus mencoba menemukan ruang terbaik untuk berkembang.
Hari wisuda mungkin menjadi penanda berakhirnya masa kuliah Tata di FH Unsrat. Tetapi bagi perempuan dengan IPK sempurna itu, toga bukanlah garis akhir. Ada Korea Selatan yang menunggu. Ada ALSA dan jejaring mahasiswa hukum se-Asia yang harus terus ia lanjutkan.
Dari panggung vokal grup, festival choir di Singapura, kepemimpinan OSIS, kompetisi debat hukum, hingga memimpin organisasi tingkat Asia, perjalanan Daniela Vanessa Wowor menunjukkan satu hal: prestasi besar sering kali lahir dari keberanian untuk terus mencoba dan melangkah lebih jauh. Ketika namanya dipanggil sebagai lulusan terbaik, capaian itu seakan menjadi satu halaman penting dari perjalanan panjangnya—bukan halaman terakhir.