SULAWESI UTARA — Hasil tersebut membuktikan bahwa kendaraan masa kini bukan sekadar mesin mekanis, melainkan komputer berjalan di atas roda. Satu unit mobil baru rata-rata dipasangi 100 hingga 150 mikrokontroler dengan puluhan juta baris kode, jumlah yang melebihi pesawat penumpang komersial. Setiap fitur terhubung—navigator, asisten suara, hingga pembuka pintu tanpa kunci—memperluas celah yang bisa dimanfaatkan penyerang.
Jantung komunikasi elektronik mobil adalah Controller Area Network (CAN bus), protokol yang diperkenalkan Bosch pada 1986. Hingga kini, protokol ini menghubungkan modul mesin, rem, dasbor, hingga airbag. Sayangnya, desainnya lahir tanpa fitur autentikasi sama sekali.
Semua pesan di CAN bus berjalan secara broadcast. Setiap modul mendengar semua data yang lewat tanpa memverifikasi identitas pengirim. Jika peretas berhasil menyusup ke jaringan ini, ia bisa mengirim perintah palsu yang mengaku berasal dari modul rem atau mesin, dan sistem lain akan patuh menjalankannya. Ini bukan bug yang bisa diperbaiki lewat pembaruan perangkat lunak, melainkan kelemahan struktural protokol itu sendiri.
Titik masuk paling mudah untuk mempelajari jaringan ini adalah soket OBD-II, konektor diagnostik wajib pada kendaraan bermesin bensin di Eropa sejak 2001. Selain CAN, ada protokol lain seperti LIN untuk power window, FlexRay untuk sistem kritis, dan Automotive Ethernet yang mengelola kamera serta sensor. Di atas CAN juga berjalan layanan UDS yang memungkinkan penulisan ulang firmware modul kendali—sasaran empuk para peretas.
Industri otomotif baru tersentak pada 2015 ketika dua peneliti, Charlie Miller dan Chris Valasek, mendemonstrasikan peretasan jarak jauh terhadap Jeep yang sedang melaju di jalan tol. Mereka mengambil kendali atas kemudi, rem, dan pedal gas dari jarak jauh—sesuatu yang sebelumnya hanya ada di film fiksi ilmiah. Presentasi di konferensi Black Hat dan DEF CON itu menjadi titik balik kesadaran keamanan siber kendaraan.
Ancaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah relay attack. Metode ini menyerang sistem keyless entry dengan memanfaatkan dua perangkat: satu ditempatkan di dekat pemilik kunci, satunya lagi di dekat mobil. Sinyal kunci diperkuat dan diteruskan sehingga mobil mengira kunci berada di dekatnya, lalu pintu terbuka dan mesin menyala. Pencuri tidak perlu merusak kunci fisik atau kaca mobil—cukup berbekal perangkat elektronik yang dijual bebas.
Bagi yang ingin mendalami bidang ini, ada jalur legal yang bisa ditempuh. Jared Wolff mengkurasi daftar awesome-vehicle-security di GitHub yang berisi tools, riset, dan kursus keamanan kendaraan. Daftar ini telah dikumpulkan selama sembilan tahun dan menjadi rujukan utama para peneliti pemula.
Ajang seperti Pwn2Own Automotive juga menjadi arena legal untuk menguji kemampuan. Selain hadiah jutaan dolar, kontes ini membantu produsen menemukan celah sebelum penjahat siber memanfaatkannya. Pada edisi 2026, Tesla sendiri menyumbang 37 celah yang ditemukan, termasuk exploit akses root ke sistem infotainment—cukup dengan mencolokkan flash disk USB.
Semakin banyak fitur yang bergantung pada koneksi internet, semakin luas pula permukaan serangannya. Dari sistem hiburan hingga pengisian daya kendaraan listrik, semua menjadi potensi pintu masuk. Bahkan charger mobil listrik pun tidak luput—salah satu tim peneliti berhasil menjalankan game Doom di layar unit pengisian daya.
Keamanan kendaraan kini bukan lagi tanggung jawab pabrikan semata. Pemilik mobil perlu memahami risiko ini, terutama bagi pengguna kendaraan keyless yang rentan terhadap relay attack. Menggunakan Faraday bag untuk menyimpan kunci saat di rumah, misalnya, adalah langkah sederhana yang efektif.
Dengan kompleksitas yang terus bertambah, tantangan keamanan kendaraan hanya akan semakin besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah mobil bisa diretas, melainkan seberapa cepat industri dan pemilik kendaraan beradaptasi menghadapi ancaman ini.