Inflasi Sulut Tembus 2,53 Persen di Juli 2026, UKT dan Harga Tiket Pesawat Jadi Biang Kerok

Penulis: Edi Wahyono  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:25:31 WIB
Petugas menunjukkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) di kantor BPS Sulawesi Utara, Senin (3/8/2026).

MANADO — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mencapai 2,53 persen pada Juli 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,27. Tekanan harga terbesar datang dari kelompok pendidikan yang naik hingga 11,67 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,66 persen.

Kepala BPS Sulut Watekhi mengungkapkan, kenaikan tarif akademi atau perguruan tinggi menjadi pendorong utama inflasi pada bulan ini. "Tarif akademi atau perguruan tinggi naik seiring dimulainya tahun ajaran baru yang dipengaruhi oleh meningkatnya biaya operasional," ujarnya di Manado, Senin.

UKT dan Tiket Pesawat Sumbang Inflasi Terbesar

Secara bulanan (month to month), kelompok akademi atau perguruan tinggi menyumbang inflasi sebesar 0,14 persen. Sementara secara tahunan, andilnya mencapai 0,33 persen. Watekhi menjelaskan bahwa Juli merupakan gelombang masuk mahasiswa baru, dan tahun ini biaya masuk mengalami peningkatan signifikan.

Selain pendidikan, komoditas lain yang dominan mendorong inflasi tahunan adalah emas perhiasan, angkutan udara, ikan malalugis, ikan cakalang, dan bensin. Kelompok transportasi secara keseluruhan tercatat mengalami inflasi sebesar 5,81 persen.

Manado Paling Tertekan, Minahasa Utara Paling Rendah

Laju inflasi di Sulut tidak merata. Kota Manado mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,52 persen dengan IHK 111,24. Sebaliknya, Kabupaten Minahasa Utara menjadi daerah dengan inflasi terendah, hanya 1,00 persen dengan IHK 114,30.

Dari 11 kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami kenaikan harga. Selain pendidikan dan transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 0,86 persen, perumahan 1,09 persen, serta kesehatan 0,93 persen.

Harga Beras Naik, Cabai dan Bawang Justru Turun

Beras menjadi salah satu pemicu inflasi karena pasokan terbatas. Watekhi menyebut daerah sentra produksi belum memasuki masa panen, ditambah serangan hama tikus di kawasan Bolaang Mongondow Raya yang mengurangi hasil panen.

Namun, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Cabai rawit dan tomat turun seiring meningkatnya pasokan dari Gorontalo, Minahasa, dan Minahasa Selatan yang sedang musim panen. Bawang merah juga mengalami penurunan setelah stok dari Bima dan Makassar masuk melalui distributor.

Komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan antara lain cabai rawit, tomat, daging babi, bawang merah, beras, dan cabai merah. Penurunan harga ini membantu meringankan beban belanja masyarakat di tengah kenaikan biaya pendidikan dan transportasi.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top