MANADO — Juergen Klopp resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala timnas Jerman oleh DFB pada Jumat lalu. Mantan pelatih Liverpool itu mulai didekati federasi sejak 10 Juni di New York. Keputusan ini diambil setelah Julian Nagelsmann mundur usai Jerman hanya mampu lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil buruk. Dalam babak 32 besar di Boston Stadium, Foxborough, pada 30 Juni, borok mentalitas tim terbuka lebar. Kapten Joshua Kimmich bertanya siapa yang akan menjadi penendang keenam dalam adu penalti melawan Paraguay. Leon Goretzka, pemain senior, tidak maju. Jonathan Tah, yang bukan eksekutor utama, justru mengambil langkah berani namun tendangannya melambung. Jerman kalah 3-4 setelah bermain imbang 1-1.
Momen itu menjadi gambaran kecil dari krisis mentalitas yang parah. Sejak terakhir menjadi juara dunia 2014, pencapaian terbaik Jerman hanya lolos ke babak 32 besar. Dua edisi sebelumnya—2018 dan 2022—mereka terhenti di fase grup.
Kegagalan beruntun selalu berujung pada pergantian pelatih. Joachim Loew mundur setelah Piala Dunia 2018. Hansi Flick dicopot setelah gagal di Piala Dunia 2022. Julian Nagelsmann mundur usai Piala Dunia 2026. Kini giliran Klopp yang dipercaya membawa perubahan. Namun pola ini menunjukkan bahwa masalah Jerman tidak hanya di kursi pelatih.
Philipp Lahm, kapten juara dunia 2014, menyatakan Jerman saat ini kesulitan memproduksi pemain bintang. Sementara Mats Hummels, anggota skuad 2014, menilai tim kehilangan identitas dengan mencoba meniru gaya tiki-taka Spanyol. "Kami tidak memiliki jati diri, mentalitas, dan identitas," kata Hummels dalam analisisnya.
Kritik serupa pernah dilontarkan Klopp dan Ralf Rangnick saat Euro 2000. Dalam biografi Bring The Noise, mereka menyebut lemahnya pengembangan pemain muda dan kesalahan memahami sepak bola sebagai permainan kolektif. Dua puluh enam tahun kemudian, analisis itu kembali relevan.
Sebelum ditunjuk, Klopp sendiri sudah mengakui