SULAWESI UTARA — Qualcomm resmi memberlakukan kenaikan harga untuk seluruh lini chip Snapdragon yang dikirim setelah 1 September 2024. Langkah ini disampaikan langsung ke para pelanggan, sebagian besar adalah pabrikan ponsel Android. Bloomberg melaporkan bahwa kenaikan bisa mencapai “double digit” – setidaknya 10 persen – meski angka pastinya belum diumumkan.
Jika kenaikan minimal 10 persen diterapkan, itu langsung menekan margin pabrikan yang sudah tipis. Sebelumnya, Qualcomm juga tercatat menaikkan harga chip flagship Snapdragon 8 Elite hingga 30 persen dibanding generasi pendahulunya. Kini tren kenaikan berlanjut ke seluruh portofolio, dari seri 8 hingga seri 7 dan 6.
Qualcomm menyebut bahwa mereka sudah “kehabisan kemampuan menyerap kenaikan biaya dari pemasok”. Artinya, beban kenaikan biaya produksi – mulai dari bahan baku hingga fabrikasi – akan langsung dibebankan ke pembeli chip, yaitu vendor HP.
Akar masalah bukan hanya pada kelangkaan semikonduktor biasa. Bloomberg mengidentifikasi bahwa industri AI adalah biang keladi utamanya. Permintaan besar untuk data center dan infrastruktur AI telah menggerogoti kapasitas produksi komponen di seluruh rantai pasok. Akibatnya, biaya wafer, substrate, hingga pengemasan chip ikut melonjak.
Qualcomm sendiri mengakui sudah berusaha mencari sumber alternatif untuk komponen tertentu, namun belum cukup untuk menahan tekanan biaya. “Perusahaan telah melakukan upaya untuk mengamankan komponen alternatif dari sumber baru,” tulis laporan tersebut, tetapi hasilnya belum signifikan.
Kenaikan harga chip Snapdragon berarti pabrikan seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Realme harus menanggung biaya lebih tinggi untuk setiap unit ponsel. Dalam jangka pendek, mereka bisa menekan margin sendiri, tapi dalam jangka menengah harga jual HP Android dipastikan naik.
Untuk pengguna Indonesia yang mayoritas sensitif harga, efeknya bisa terasa di segmen flagship (Rp 10–20 juta) maupun menengah (Rp 3–8 juta). Ponsel dengan chip Snapdragon 8 Elite atau 8 Gen 3 misalnya, bisa mengalami kenaikan Rp 1–3 juta dari harga saat ini. Vendor mungkin juga mengurangi spesifikasi lain seperti RAM atau kamera untuk menjaga titik harga.
Menariknya, beredar rumor bahwa Qualcomm tengah mengerjakan varian lebih terjangkau dari chip flagship terbarunya, Snapdragon 8 Elite Gen 5. Ini bisa menjadi kompromi: vendor bisa memilih chip yang lebih murah untuk menekan harga akhir. Namun, chip seperti itu kemungkinan baru hadir tahun depan, sementara kenaikan harga berlaku mulai bulan depan.
Di sisi lain, kompetitor seperti MediaTek mungkin diuntungkan. Pabrikan Android bisa mulai beralih ke chip Dimensity untuk menghemat biaya. Bagi konsumen, ini berarti pilihan ponsel dengan chip MediaTek akan semakin banyak, tapi performa premium tetap menjadi ranah Snapdragon.
Kesimpulannya, pengguna Android di Indonesia harus bersiap merogoh kocek lebih dalam mulai kuartal akhir 2024. Jika Anda berniat membeli HP baru dengan chip Snapdragon, mungkin sebaiknya dilakukan sebelum September atau siap-siap membayar lebih.