MANADO — Gelombang kejut gempa dahsyat di Filipina pada Senin (8/6) pagi tidak hanya memicu peringatan dini tsunami, tetapi juga meninggalkan kerusakan infrastruktur yang tersebar di dua kabupaten ujung utara Sulawesi. BPBD Sulut mengonfirmasi total 31 bangunan tercatat rusak, mayoritas adalah rumah tinggal.
Kepala BPBD Sulut Adolf Tumengkel merinci, dari total kerusakan tersebut, 27 unit merupakan rumah warga. Sebanyak 20 unit di antaranya berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, sementara tujuh rumah lainnya rusak di Kecamatan Rainis, Kabupaten Kepulauan Talaud.
"Jumlah total kerusakan infrastruktur di Sulawesi Utara (Kepulauan Sangihe dan Talaud), rumah warga 27 unit, gedung gereja 2 unit, sekolah 1 unit, rumah dinas guru 1 unit," kata Adolf kepada detikcom.
Gempa yang terjadi pukul 06.37 WIB ini sempat memicu status Siaga hingga Waspada tsunami di tiga provinsi: Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Data pemutakhiran sensor alat pengukur pasang surut (tide gauge) menunjukkan tsunami kecil berhasil mendarat di beberapa titik.
Ketinggian gelombang tertinggi tercatat mencapai 0,75 meter di Talengan, Kepulauan Sangihe. Meski demikian, BMKG telah resmi mengakhiri peringatan dini tsunami setelah memastikan kondisi sudah aman.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa magnitudo 7,7 dinyatakan berakhir. Pihaknya mencatat ada 20 gempa susulan dengan magnitudo bervariasi antara 3,9 hingga 6,7 yang masih dirasakan oleh masyarakat di wilayah pesisir.
"Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa mag: 7.7 dinyatakan telah berakhir," ujar Wijayanto.
BPBD Sulut masih melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan tidak ada korban jiwa serta menghitung total kerugian material yang dialami warga di Kepulauan Sangihe dan Talaud.