Pencarian

Subsidi LPG 3 Kg Berpotensi Tembus Rp 100 Triliun, Ini Pemicunya

Jumat, 16 Oktober 2026 • 11:04:31 WIB
Subsidi LPG 3 Kg Berpotensi Tembus Rp 100 Triliun, Ini Pemicunya
Menteri Bahlil Lahadalia memproyeksikan subsidi LPG 3 kg berpotensi menembus Rp 100 triliun jika harga minyak dunia naik ke US$ 90–100 per barel.

SULAWESI UTARA — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memperkirakan subsidi LPG 3 kilogram bisa menembus Rp 100 triliun jika harga minyak dunia melonjak ke US$ 90–100 per barel. Proyeksi itu muncul saat pemerintah hanya menganggarkan Rp 87 triliun untuk subsidi LPG tahun ini, dengan asumsi ICP US$ 70 per barel.

Paragraf pembuka: Bahlil menyampaikan proyeksi tersebut dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Jumat (16/10). Ia menyoroti ketidakpastian geopolitik global yang membuat harga energi sulit diprediksi. Bahlil saat ini merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Konsumsi LPG 8,5 Juta Ton, Produksi Domestik Cuma 1,8 Juta Ton

Angka konsumsi LPG masyarakat mencapai 8,5 juta ton per tahun. Jika ditambah kebutuhan industri, total kebutuhan nasional menembus 11–12 juta ton.

Kapasitas produksi dalam negeri hanya 1,8 juta ton per tahun. Selisihnya dipenuhi lewat impor sekitar 7–8 juta ton. Ketergantungan impor inilah yang membuat subsidi sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia.

“Tapi begitu rata-rata ICP di angka US$ 90-100 per barel, subsidi (LPG) kita hampir Rp 100 triliun,” kata Bahlil.

Tekanan Devisa dan Ketidakpastian Geopolitik

Bahlil menyebut lonjakan subsidi berdampak langsung pada devisa negara. Meski subsidi ditujukan untuk masyarakat, nilainya yang membengkak membuat banyak dolar keluar untuk membayar impor.

Ia menggambarkan situasi global saat ini penuh ketidakpastian akibat konflik Israel-Palestina, AS-Israel-Iran, Rusia-Ukraina, hingga perang Arab Saudi dengan kelompok Houthi.

“Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing,” ujarnya.

Kuota Subsidi LPG Diprediksi Jebol 677 Ribu Ton

Kementerian ESDM memproyeksikan realisasi penyaluran subsidi LPG 3 kg melampaui kuota tahun ini. Dalam APBN 2026, kuota subsidi LPG ditetapkan 8 juta metrik ton (mt).

“Untuk 2026 prognosanya (hingga akhir tahun) sebesar 8,677 juta mt,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).

Artinya, kuota berpotensi jebol 677 ribu mt atau setara 8,46 persen. Penghitungan prognosa ini memakai rata-rata penyaluran harian tiap kabupaten dan kota pada periode Januari–Juli.

Pertalite Ikut Tertekan, Pertamina Waspadai Nataru

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan prognosa penyaluran subsidi Pertalite juga melampaui target tahun ini, di atas 8,5 persen.

“Untuk LPG tabung 3 kg pendorong utamanya adalah pertumbuhan penduduk nasional serta pertumbuhan ekonomi yang serupa. Selain itu kebutuhan menjaga ketersediaan menjelang periode natal dan tahun baru (2027),” ujar Oki dalam kesempatan yang sama.

Bagi Pertamina, lonjakan konsumsi menjelang akhir tahun menambah beban distribusi. Pasokan harus dijaga agar tidak terjadi kelangkaan di daerah saat permintaan puncak.

Penutup: Proyeksi subsidi LPG yang mendekati Rp 100 triliun menunjukkan beban fiskal energi masih rentan terhadap gejolak global. Selama produksi domestik bertahan di 1,8 juta ton, Indonesia akan terus bergantung pada impor untuk menutup kebutuhan 11–12 juta ton per tahun.

Follow kabarsulut.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks