Pencarian

Karhutla Kalimantan Bawa Asap Lintas Negara, 793 Titik Panas Terdeteksi

Senin, 12 Oktober 2026 • 13:32:31 WIB
Karhutla Kalimantan Bawa Asap Lintas Negara, 793 Titik Panas Terdeteksi
Kementerian Kehutanan mendeteksi 793 titik panas berkepercayaan tinggi di Indonesia hingga 10 Oktober 2026.

SULAWESI UTARA — Kementerian Kehutanan mendeteksi 793 titik panas berkepercayaan tinggi di Indonesia hingga 10 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, dengan Kalimantan Tengah menyumbang 288 titik. Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terbawa angin melintasi perbatasan dan menekan kualitas udara Malaysia serta Singapura. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mencatat PSI 24 jam di rentang 112-155 atau kategori tidak sehat pada 11 Oktober.

Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan masing-masing menyumbang 44 dan 28 titik panas dalam pantauan yang sama. Kementerian Kehutanan menegaskan angka tersebut merupakan hasil deteksi satelit yang masih memerlukan verifikasi lapangan, bukan jumlah pasti kejadian kebakaran.

Lahan gambut menjadi faktor yang memperpanjang siklus karhutla. Bara di bawah permukaan tanah dapat bertahan meski api di atasnya tak lagi terlihat, sehingga kebakaran berulang dan terus memproduksi asap.

Asap Menyeberang ke Singapura dan Malaysia

NEA melaporkan asap dari Sumatra bagian selatan dan Kalimantan Barat terpantau bergerak menuju Singapura. Angin dari tenggara dan selatan diperkirakan masih membawa asap ke wilayah tersebut seiring kondisi kering yang berlanjut.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan pola sebaran asap di Kalimantan Timur dapat bergerak hingga ke Sabah, Malaysia.

"Sebaran asap karhutla umumnya bergerak ke arah barat laut menuju timur laut hingga melewati batas administratif ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia," kata Budi dalam keterangan BMKG (25/8).

Pergerakan asap tidak selalu seragam setiap hari. Arah dan kecepatan angin, kondisi atmosfer, serta lokasi kebakaran menentukan ke mana asap bergerak dan seberapa jauh penyebarannya.

Mengapa Asap Bisa Menyeberangi Perbatasan

Asap kebakaran merupakan campuran gas dan partikel hasil pembakaran vegetasi serta material organik. Sebagian partikel berukuran sangat kecil, termasuk PM2.5, yang mampu bertahan di udara dan terbawa angin jauh dari sumber kebakaran.

Ketika angin bertiup dari daerah kebakaran menuju wilayah lain, partikel asap ikut bergerak melintasi laut dan perbatasan negara. Dampaknya tidak berhenti di sekitar hutan yang terbakar.

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) dalam pembaruan 11 Oktober memperkirakan kondisi kering masih berlanjut di sejumlah wilayah selatan ASEAN. Angin dari tenggara hingga selatan membuat risiko kabut asap lintas negara tetap perlu diwaspadai.

Hujan Belum Tentu Menyelesaikan Masalah

Hujan dapat membantu mengurangi partikel di atmosfer melalui proses pencucian oleh air hujan. Namun jika kebakaran masih berlangsung dan sumber asap terus menghasilkan emisi, kualitas udara dapat kembali memburuk setelahnya.

Selama sumber kebakaran belum terkendali, kombinasi lahan kering dan pola angin akan terus membawa dampaknya ke wilayah lain. Pemadaman karhutla dan pemantauan kualitas udara perlu dilakukan bersamaan.

Bagi masyarakat di wilayah terdampak, informasi konsentrasi PM2.5 dan imbauan otoritas setempat menjadi acuan untuk membatasi aktivitas luar ruang ketika kualitas udara memburuk.

Follow kabarsulut.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks