SULAWESI UTARA — Bambang Soesatyo mendorong percepatan industri motor listrik nasional dengan menyoroti rencana insentif bagi perusahaan yang mampu memproduksi satu juta unit di dalam negeri. Anggota Wantimpres RI itu menilai pasar sepeda motor yang melampaui 145 juta unit menjadi modal besar untuk elektrifikasi bertahap. Pemerintah sendiri menargetkan sekitar 13 juta sepeda motor listrik beroperasi pada 2030.
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Bambang Soesatyo, menyampaikan hal itu saat menghadiri peluncuran sepeda motor GODA Galatic Series di Jakarta, Minggu (11/10/26). Ia menekankan bahwa elektrifikasi kendaraan roda dua dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan ketergantungan terhadap BBM impor.
Menurut Bamsoet, tantangan terbesar bukan pada ketersediaan pasar, melainkan pada kemampuan mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan industri nasional. Ia menyoroti perlunya memastikan kendaraan listrik yang dipakai masyarakat semakin banyak diproduksi di dalam negeri, melibatkan tenaga kerja lokal, menggunakan komponen dalam negeri, dan membangun kemampuan teknologi nasional.
Pasar Sepeda Motor Nasional Masih Jadi Tulang Punggung Mobilitas
Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencatat penjualan sepeda motor di dalam negeri sepanjang 2025 mencapai 6.412.769 unit. Angka itu menunjukkan sepeda motor masih menjadi sarana mobilitas utama masyarakat, sekaligus pasar yang potensial untuk elektrifikasi secara bertahap.
Pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 13 juta sepeda motor listrik pada 2030, termasuk kendaraan listrik roda dua yang beroperasi di jalan raya. Bamsoet menilai target tersebut harus disertai langkah nyata agar masyarakat benar-benar beralih.
"Masyarakat akan beralih jika kendaraan listrik terbukti ekonomis, aman, nyaman, dan mudah dirawat. Karena itu, keberhasilan transisi tidak cukup diukur dari jumlah kendaraan yang terjual, tetapi juga dari kepercayaan dan kepuasan penggunanya," kata Bamsoet.
Insentif Produksi Satu Juta Unit Harus Punya Kriteria Jelas
Bamsoet menyoroti rencana pemerintah memberikan insentif kepada perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi satu juta sepeda motor listrik di dalam negeri. Menurutnya, insentif itu perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas manufaktur dan rantai pasok nasional, bukan sekadar mengejar volume produksi.
Ia menyebut sejumlah kriteria yang harus dipenuhi penerima insentif, mulai dari realisasi investasi, peningkatan kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok lokal, hingga pengembangan riset dan teknologi. Kebijakan tersebut juga perlu memastikan dukungan negara menghasilkan manfaat ekonomi yang sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan.
"Insentif harus tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian. Kita membutuhkan industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif, memperluas lapangan kerja, dan mengembangkan teknologi sendiri. Jangan sampai produksi meningkat, tetapi ketergantungan terhadap komponen impor tetap tinggi," ujar Bamsoet.
Kolaborasi Jadi Kunci Transisi Energi
Keberhasilan industri kendaraan listrik, lanjut Bamsoet, harus diukur dari penguatan manufaktur nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kandungan lokal, dan pengurangan ketergantungan pada BBM impor. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga riset, dan masyarakat menjadi kunci agar momentum transisi energi tidak terbuang.
"Indonesia memiliki modal pasar yang besar. Sekarang saatnya mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan industri. Kita harus bergerak bersama membangun kendaraan listrik yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan demi kemandirian energi serta masa depan ekonomi Indonesia," urai Bamsoet.
Peluncuran GODA Galatic Series sendiri dihadiri sejumlah pejabat, antara lain Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, Anggota Komisi III DPR RI Sudin, Direktur BAIS TNI Brigjen TNI Sansan Iskandar, dan Staf Khusus Wakil Presiden Achmad Adhitya.