Pencarian

Dradjad Tantang Proyeksi Bank Dunia 5,2%, Pemerintah Pede Target 6% di 2027

Kamis, 08 Oktober 2026 • 13:32:31 WIB
Dradjad Tantang Proyeksi Bank Dunia 5,2%, Pemerintah Pede Target 6% di 2027
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo berbicara dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10).

SULAWESI UTARA — Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menantang proyeksi Bank Dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 6 persen pada 2027 dan menyerahkan perbedaan proyeksi itu kepada waktu yang akan membuktikan.

Dradjad menyampaikan tanggapan tersebut dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10). Ia menegaskan pemerintah tidak akan mengubah target hanya karena lembaga multilateral meramal angka lebih rendah.

"Ya boleh lah World Bank membuat prediksi seperti itu, tapi waktu yang akan membuktikan, kita lihat siapa yang benar nanti," kata Dradjad.

Bank Dunia Naikkan Proyeksi 2026, tapi Masih di Bawah Target Pemerintah

Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Angka itu sebenarnya naik 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7 persen untuk 2026.

Meski demikian, proyeksi tersebut masih jauh dari target pemerintah. Dalam pembahasan asumsi dasar makroekonomi RAPBN 2027, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027.

Kuartal IV 2026 Jadi Fase Krusial

Pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah sumber pertumbuhan untuk mengejar target 6 persen. Dradjad menyoroti periode kuartal IV 2026 sebagai fase yang harus dijaga ketat karena basis pertumbuhannya berbeda dari periode lain.

"Kita udah mengidentifikasi sumber-sumber pertumbuhannya dan untuk yang krusial kan ini di kuartal IV tahun 2026," ujarnya.

"Itu krusial karena basis pertumbuhannya kan berbeda. Nah ini kita siapkan langkah-langkah untuk menjaga pertumbuhan di kuartal IV tahun 2026," lanjut Dradjad.

Bukan Cuma Stimulus, Produktivitas Jadi Kunci

Pemerintah menegaskan strategi pertumbuhan tidak bertumpu pada bantuan fiskal semata. Dradjad mengatakan dorongan utama diarahkan pada peningkatan produktivitas masyarakat agar pertumbuhan lebih berkelanjutan.

"Bukan hanya stimulus, yang kita dorong itu adalah supaya orang bisa bangkit di atas kaki sendiri," katanya.

Sejumlah instrumen disiapkan untuk mencapai target tersebut. Dradjad menyebut pemerintah memanfaatkan instrumen stimulus, standardisasi, statistik, hingga pengembangan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

"Jadi kita akan menggunakan berbagai instrumen, baik itu instrumen stimulus, instrumen standarisasi, instrumen statistik, semuanya kita pakai, kita manfaatkan untuk mendorong pertumbuhan supaya bisa tahun 2027 target 6 persen tercapai, mudah-mudahan bisa lebih," kata Dradjad di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (7/10).

Peran Swasta Jadi Penopang Momentum

Pemerintah juga menilai sektor swasta memegang peran penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Kontribusi investasi dan ekspansi usaha swasta dianggap menentukan apakah target 6 persen bisa tercapai atau tidak.

Bagi pelaku pasar, perbedaan proyeksi antara Bank Dunia dan pemerintah menjadi sinyal yang perlu dicermati. Proyeksi Bank Dunia yang lebih konservatif mencerminkan asumsi risiko global yang masih membayangi, sementara target pemerintah mencerminkan optimisme terhadap efektivitas kebijakan domestik.

Selisih 0,8 poin persentase antara kedua angka tersebut bukan perbedaan kecil. Jika pertumbuhan hanya mencapai 5,2 persen, ruang fiskal untuk program-program prioritas akan lebih terbatas dibanding asumsi 6 persen yang dipakai dalam penyusunan RAPBN 2027.

Follow kabarsulut.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks