SULAWESI UTARA — Haka Auto memperluas jaringan dealer BYD ke sejumlah kota penyangga Jawa Timur, mencakup Madiun, Gresik, Mojokerto, hingga Banyuwangi. Ekspansi ini menyasar lonjakan permintaan kendaraan listrik di wilayah second-tier yang tumbuh setelah kenaikan harga BBM. Seluruh titik baru mengusung standar 3S (Sales, Service, Spare Parts).
Jaringan showroom berstandar global 3S itu mencakup BYD Haka Madiun, BYD Haka Gresik, BYD Haka Mojokerto, dan BYD Haka Banyuwangi yang berlokasi di Jalan Letjen S Parman. Langkah ini menjawab pergeseran pola pikir konsumen di Malang Raya, Kediri, Madiun, Jember, Mojokerto, dan Banyuwangi yang kian menghitung biaya operasional bulanan, bukan sekadar harga beli.
Meningkatnya harga bahan bakar minyak fosil disebut sebagai faktor pemicu utama yang mempercepat perpindahan konsumen dari mobil konvensional ke kendaraan berenergi baru. Mobil listrik tidak lagi diposisikan sebagai barang mewah untuk segmen niche.
General Manager Operation Central Area Haka Auto, Chitra Ortho Prayundityo, menilai perilaku konsumen sekarang jauh lebih terukur. Masyarakat mulai menghitung cermat berapa rupiah biaya rutin yang harus dikeluarkan setiap bulan untuk BBM dan perawatan berkala.
"Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut pengelolaan anggaran secara cermat, pertimbangan membeli kendaraan menjadi sangat ketat," ujar pria yang akrab disapa Ndandit tersebut.
Ndandit menambahkan, kehadiran mobil listrik produksi lokal yang ramah kantong bertemu langsung dengan momentum rasionalisasi pengeluaran konsumen. Pabrik perakitan BYD di Subang yang diresmikan 3 September 2026 memperkuat penetrasi pasar tersebut.
Haka Auto memasarkan sejumlah model BYD di jaringan barunya, mulai dari BYD Atto 1, BYD M6 EV, hingga varian Dual Mode (DM) seperti BYD M6 DM. Kombinasi teknologi tinggi dan harga wajar menjadi daya tarik utama bagi konsumen daerah.
Branch Manager BYD Haka Mojokerto, Joseptian Felix, menyebut lonjakan minat beli di wilayahnya sangat sensitif terhadap pengeluaran operasional bulanan. Pilihan teknologi murni listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) maupun hybrid membuat mobil listrik bertransformasi menjadi kendaraan harian keluarga yang fungsional.
"Produk BYD bertemu tepat dengan kebutuhan mobilitas masyarakat yang makin selektif. Paduan teknologi terbaik dan harga terjangkau menjadi kunci utama daya tarik konsumen," terang Joseptian Felix.
Ekspansi kendaraan berbasis baterai di daerah menghadapi satu keraguan mendasar: di mana tempat servis dan perawatan rutin jika mobil bermasalah. Haka Auto menjawabnya dengan menghadirkan fasilitas 3S lengkap di setiap titik, termasuk Banyuwangi.
Branch Manager BYD Haka Banyuwangi, Bagus Tilam, menyebut kawasan Bumi Blambangan telah bertransformasi dari daerah tujuan wisata menjadi pusat magnet investasi baru. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi yang melonjak membutuhkan sarana mobilitas modern yang efisien.
Jaminan suku cadang asli dan teknisi tersertifikasi kini tersedia langsung di lokasi, tanpa perlu membawa kendaraan jauh ke Surabaya. Kepastian garansi purna jual dan layanan darurat menjadi fondasi Haka Auto dalam mengawal era kendaraan listrik di kota penyangga.
Riset internal Haka Auto menghitung efisiensi perjalanan jarak jauh antarkota dari Surabaya menuju Banyuwangi. Penggunaan mobil listrik BYD hanya menghabiskan biaya pengisian daya sekitar Rp150 ribuan untuk rute tersebut.
Angka itu jauh memangkas biaya operasional dibanding mobil bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) yang bisa menghabiskan BBM hingga tiga kali lipatnya. Perhitungan ini menjadi salah satu argumen utama dealer dalam menarik pembeli di wilayah penyangga.
"Lini produk kami sangat menjawab keberagaman mobilitas di kota-kota penyangga. Fleksibilitas teknologi Dual Mode maupun BEV didukung penuh oleh infrastruktur pengisian daya yang kian masif di Pulau Jawa," tambah Ndandit.