BRI Danareksa Soroti Risiko Kredit Konsumer, Pilih Bank Eksposur Rendah

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Kamis, 24 September 2026 | 11:03:31 WIB
Ilustrasi aktivitas perbankan nasional di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

SULAWESI UTARA — BRI Danareksa Sekuritas menilai bank dengan eksposur kredit konsumer rendah lebih tahan menghadapi potensi kenaikan biaya pencadangan hingga 2027. Penilaian itu muncul setelah NPL kredit konsumer naik ke 2,4-2,5 persen, jauh dari 1,6 persen pada Januari 2023. Kredit industri sendiri tumbuh 12,5 persen YoY per Juni 2026, tapi ditopang kredit investasi, bukan konsumsi.

Riset BRI Danareksa Sekuritas yang dirilis Kamis (24/9/2026) menyoroti pergeseran sumber pertumbuhan kredit perbankan nasional. Kredit industri tercatat tumbuh 12,5 persen secara tahunan pada Juni 2026, namun mesin utamanya bukan segmen konsumer.

Kredit investasi melesat 25 persen YoY dan menjadi penopang utama angka pertumbuhan tersebut. Sementara kredit konsumer hanya tumbuh sekitar 5 persen, tertinggal jauh dari laju kredit investasi.

Kredit Konsumer Jadi Titik Lemah

Tekanan paling terasa di segmen kredit konsumer. NPL segmen ini naik menjadi sekitar 2,4-2,5 persen, dibandingkan 1,6 persen pada Januari 2023. Kenaikan itu menandakan memburuknya kemampuan sebagian debitur membayar cicilan.

Di segmen UMKM, sinyal pelemahan juga muncul. Kredit modal kerja menyusut sekitar 4-5 persen YoY, mencerminkan pelaku usaha menahan ekspansi atau kesulitan mengakses pembiayaan baru.

Mengapa Bank Bereksposur Rendah Konsumer Lebih Aman

BRI Danareksa Sekuritas menilai bank dengan porsi kredit konsumer lebih kecil punya ruang lebih baik menghadapi potensi kenaikan biaya pencadangan hingga 2027. Logikanya, semakin besar eksposur ke segmen yang NPL-nya naik, semakin besar beban provisi yang harus disiapkan.

Sebaliknya, bank yang bertumpu pada kredit investasi dan korporasi dinilai lebih terlindungi dari tekanan kualitas aset konsumer. Segmen investasi masih tumbuh dua digit dan belum menunjukkan gejala pemburukan serupa.

Yang Perlu Dicermati Investor

Bagi investor, riset ini memberi kerangka memilah saham bank bukan hanya dari pertumbuhan kredit, tetapi dari komposisi portofolionya. Bank dengan porsi kredit konsumer besar berpotensi menanggung beban provisi lebih berat dalam dua tahun ke depan.

Sebaliknya, bank yang eksposurnya lebih condong ke kredit investasi dan korporasi dinilai lebih tahan terhadap siklus pelemahan daya beli rumah tangga. Namun, ketergantungan pada kredit investasi juga menyimpan risiko tersendiri jika belanja modal perusahaan melambat.

Pertumbuhan kredit investasi 25 persen YoY memang terdengar impresif, tapi pertumbuhan tinggi biasanya diikuti kenaikan risiko seiring matangnya portofolio. Kualitas kredit segmen ini perlu dipantau dalam beberapa kuartal ke depan.

Gambaran Industri Secara Keseluruhan

Data BRI Danareksa Sekuritas menggambarkan perbankan nasional sedang bergeser dari konsumsi ke investasi sebagai sumber pertumbuhan. Pergeseran ini punya implikasi berbeda bagi tiap bank, tergantung seberapa besar porsi kredit konsumer di neraca masing-masing.

NPL konsumer yang naik dari 1,6 persen ke 2,4-2,5 persen dalam sekitar tiga tahun menunjukkan tekanan ini bukan gejala sesaat. Bank yang lebih awal menyesuaikan portofolio punya posisi lebih baik menghadapi potensi kenaikan biaya pencadangan hingga 2027.

Bagi pelaku pasar, riset ini menegaskan bahwa memilih saham bank kini menuntut pembacaan lebih detail terhadap komposisi kredit, bukan sekadar melihat angka pertumbuhan agregat industri.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top