SULAWESI UTARA — Akumulasi penjualan sepeda motor listrik di Indonesia baru menyentuh sekitar 280 ribu unit, sementara motor berbahan bakar minyak (BBM) tumbuh 5-6 juta unit per tahun. Kesenjangan itu diungkap Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI. Penetrasi yang tersendat membuat pangsa pasar motor listrik masih sangat kecil dibandingkan motor konvensional.
"Jadi kalau secara market share kami masih kecil sekali dibandingkan dengan motor yang ICE," kata Budi dalam rapat tersebut.
Budi merinci perjalanan penjualan motor listrik nasional dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, saat pasar masih tergolong awal, penjualan hanya sekitar 15 ribu unit.
Angka itu naik signifikan pada 2024 menjadi sekitar 77 ribu unit. Setahun berselang, tepatnya 2025, penjualan tercatat 70 ribu unit meski tanpa subsidi.
Kondisi berbeda terjadi pada 2026. Hingga Agustus, penjualan motor listrik baru mencapai sekitar 18.900 unit.
"Namun di tahun 2026 sampai dengan bulan Agustus kami sekarang ini baru sekitar 18.900 (unit)," ungkap Budi.
Ketidakpastian subsidi menjadi salah satu penyebab utama lesunya pasar. Calon konsumen cenderung menunda pembelian karena berharap mendapat bantuan pemerintah.
Budi menyebut pemerintah sebenarnya sudah menyampaikan rencana subsidi sejak awal 2026. Menteri Keuangan Purbaya bahkan sempat menyinggung besaran insentif sekitar Rp 3 juta.
"Namun sampai dengan bulan September ini juga belum ada kehaparannya. Jadi sangat juga menghambat menyangkut masalah penjualan sepeda motor listrik yang ada," tambahnya.
Sebelumnya, insentif motor listrik sempat dijanjikan keluar pada Agustus 2025. Namun rencana itu tak kunjung terealisasi hingga pergantian tahun.
Selain subsidi, ketersediaan infrastruktur pengisian daya turut menjadi ganjalan. Budi menyebut charging sebagai salah satu hambatan utama setelah persoalan insentif.
Kekhawatiran lain datang dari minimnya bengkel resmi. Banyak masyarakat masih bertanya-tanya ke mana mereka harus membawa motor listrik jika mengalami kerusakan.
"Banyak masyarakat yang masih menanyakan kalau kemudian menggunakan sepeda motor listrik, kalau rusak nanti akan perbaikan di mana," jelasnya.
Persoalan pembiayaan juga belum sepenuhnya terurai. Menurut Budi, bank-bank Himbara sudah menyatakan kesiapan mendukung pendanaan motor listrik.
Namun kesiapan itu belum berjalan mulus di lapangan. Implementasi dukungan pembiayaan masih mengalami hambatan hingga sekarang.
"Kalau dirapatkan dengan pihak pemerintah, beberapa industri atau kemudian bank Himbara menyangkut masalah financing, kalau diajak untuk mendukung sepeda motor listrik dalam rangka pendanaan, siap. Namun dalam implementasi sampai dengan sekarang kita juga masih mengalami hambatan," katanya.