MANADO — BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado menaikkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan ekstrem di Sulawesi Utara (Sulut) hingga akhir Agustus 2026. Fenomena ini dipicu menguatnya El Nino yang dikombinasikan dengan aktivitas Monsun Australia serta keberadaan bibit siklon tropis 97W di Samudra Pasifik utara Papua.
Koordinator Bidang Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Karina Husna, menjelaskan bahwa tekanan udara tinggi menghambat pertumbuhan awan sekaligus meningkatkan kecepatan angin di wilayah Sulut. Dampaknya, curah hujan turun drastis dan memicu serangkaian bencana karhutla di beberapa kabupaten/kota.
Dampak paling parah terjadi di Kabupaten Minahasa Tenggara. Sekitar 1.000 hektare kawasan hutan lindung Gunung Soputan hangus terbakar pada awal Agustus 2026 akibat cuaca kering yang disertai tiupan angin kencang.
Insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Selatan. Di Minahasa Selatan, satu hektare lahan perkebunan di Desa Tawaang Timur, Kecamatan Tenga, ludes pada Jumat (21/8/2026). Api pertama kali terlihat pukul 09.35 WITA dan baru berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 14.45 WITA setelah sempat muncul kembali di tengah proses pemadaman.
Babinsa Koramil 1302-14/Amurang, Praka Agripai Manahampi, yang pertama tiba di lokasi bersama warga, menduga api berasal dari puntung rokok yang dibuang pengendara yang melintas. Satu unit mobil pemadam dari PLTU Amurang dan petugas Damkar Kabupaten Minahasa Selatan dikerahkan untuk menjinakkan api.
Di Kota Tomohon, kebakaran lahan perkebunan melanda kawasan Perkebunan Kekewuran, Kelurahan Tinoor Dua, Lingkungan 5. Api terlihat warga sekitar pukul 14.00 WITA dan langsung menarik perhatian Wakapolda Sulawesi Utara Brigjen Pol Awi Setiyono yang kebetulan melintas di jalan raya Manado-Tomohon. Ia sempat memantau langsung lokasi dan berdiskusi dengan warga serta pemerintah kelurahan setempat.
Sekitar 20 warga bersama anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa bergotong royong memadamkan api. Kobaran api baru berhasil dipadamkan pada pukul 17.00 WITA dengan bantuan armada pemadam kebakaran.
Menghadapi puncak musim kemarau yang diproyeksikan berlangsung hingga September 2026, Pemerintah Kota Tomohon melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) resmi menetapkan status siaga kekeringan pada Jumat (21/8/2026). Penetapan ini berlaku di lima kecamatan: Tomohon Utara, Tomohon Tengah, Tomohon Timur, Tomohon Selatan, dan Tomohon Barat.
Wali Kota Tomohon Caroll Senduk mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. "Mari bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membuang puntung rokok sembarangan. Segera melapor apabila menemukan titik api atau potensi kebakaran," imbaunya dalam keterangan resmi yang dikutip Zonautara.com.
Sementara itu, BPBD Kota Kotamobagu memperkuat kesiapsiagaan melalui Rapat Koordinasi Karhutla 2026 pada Kamis (20/8/2026). Rapat yang dipimpin Kepala BPBD Kotamobagu Asriyanti ini dihadiri Kabag Ops Polres Kotamobagu Kompol Rusdin Zima, Pasi Ops Kodim 1303/Bolmong Kapten Inf Demeysus Abraham, serta para camat se-Kota Kotamobagu.
Beberapa poin strategis disepakati dalam rapat tersebut, antara lain pembentukan posko terpadu siaga karhutla, patroli terpadu berkala, serta sosialisasi edukatif dan penempelan maklumat hukum bagi pelaku pembakaran lahan. Para camat juga diinstruksikan menggelar kerja bakti membersihkan vegetasi kering di sekitar permukiman warga.
BMKG sebelumnya merilis Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian III Agustus 2026 yang menempatkan sejumlah daerah di Indonesia, termasuk wilayah Sulawesi Utara, dalam status kewaspadaan hingga siaga. Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air bersih dan melaporkan setiap titik api kepada petugas terkait.