SULAWESI UTARA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angkutan barang melalui kereta api pada Maret 2026 mencapai 5,8 juta ton, melonjak 31,76 persen dibandingkan Maret 2025. Angka ini menjadi sinyal bahwa perkeretaapian tidak hanya menjadi tulang punggung mobilitas penumpang, tetapi juga mulai efektif mengurangi beban angkutan jalan.
Pada Mei 2026 saja, jumlah penumpang kereta api tercatat 47 juta orang. Meski secara bulanan turun 2,73 persen, realisasi tersebut tetap menunjukkan tren permintaan yang solid. Secara kumulatif, total angkutan barang via rel pada Januari–Mei 2026 mencapai 28,2 juta ton.
Kementerian Perhubungan mencatat 147,55 juta orang melakukan perjalanan selama periode Angkutan Lebaran 2026. Realisasi ini lebih tinggi 2,53 persen dari proyeksi awal survei yang sebesar 143,92 juta orang.
Pada hari H Lebaran, moda kereta api memberangkatkan 364.649 penumpang, terdiri atas 205.335 penumpang antarkota dan 159.314 penumpang perkotaan atau regional. Adapun angkutan udara melayani 206.785 penumpang, dengan rincian 155.675 penumpang domestik dan 51.110 penumpang internasional.
Angkutan laut dan penyeberangan masing-masing mencatat 21.141 penumpang dan 177.564 penumpang pada hari yang sama. Lonjakan ini berdampak langsung pada permintaan bahan bakar, makanan, penginapan, hingga jasa transportasi lokal di berbagai daerah tujuan.
Sebagai negara kepulauan, konektivitas laut masih menjadi fondasi distribusi barang. Pada Februari 2026, angkutan laut domestik mengangkut sekitar 2 juta penumpang dan 38,8 juta ton barang, naik 3,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sepanjang Januari–Februari 2026, total penumpang angkutan laut domestik mencapai 4,3 juta orang dengan volume barang 76,3 juta ton. Pada periode Lebaran 2026, jumlah penumpang kapal laut mencapai 2.020.909 orang, meningkat 9,86 persen dibandingkan Lebaran 2025 yang sekitar 1,83 juta penumpang.
Transportasi udara memiliki peran strategis dalam menghubungkan antarpulau dan pasar internasional. Data BPS pada Maret 2026 menunjukkan aktivitas penerbangan tetap tinggi, sejalan dengan kebutuhan mobilitas pebisnis dan wisatawan.
Peningkatan volume penumpang di semua moda pada 2026 mengindikasikan perputaran ekonomi yang lebih cepat. Setiap perjalanan menciptakan nilai tambah bagi perdagangan, pariwisata, dan industri jasa di daerah tujuan, sekaligus memperkuat konektivitas antara pusat produksi, kawasan industri, pelabuhan, dan pusat konsumsi.