Arsenal Kembali Abaikan Pemburu Gol Premier League, Trossard Tetap Satu-satunya yang Tepat

Penulis: Edi Wahyono  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:08:31 WIB
Leandro Trossard menunjukkan aksi saat memperkuat Arsenal dalam laga Premier League.

SULAWESI UTARA — Pola ini kontras dengan pendekatan Sir Alex Ferguson di masa jayanya. Manchester United di bawah Ferguson rutin menggaet striker papan tengah untuk menjaga produktivitas gol: Dwight Yorke, Teddy Sheringham, Dimitar Berbatov, hingga Robin van Persie. Hasilnya, dalam 13 musim juara Premier League, United hanya empat kali gagal mencetak 70+ gol. Arsenal, dengan segala kecanggihan analisisnya, justru enggan menempuh jalur sederhana ini.

Trossard: Satu-satunya Bukti yang Justru Dilupakan

Kepindahan Trossard dari Brighton pada bursa Januari 2023 adalah contoh sempurna. Dibeli di bawah £25 juta setelah gagal mendapatkan Mykhailo Mudryk, pemain Belgia itu langsung mencetak gol dalam hitungan pekan dan menjadi pahlawan klub. Ia tidak butuh adaptasi. Namun, alih-alih menjadikan Trossard sebagai cetak biru, Arsenal justru berhenti total.

Dalam tiga tahun terakhir, tidak ada satu pun penyerang dari klub di luar "big six" yang direkrut. Padahal nama-nama seperti Ollie Watkins, Ivan Toney, dan Bryan Mbeumo sempat dikaitkan. Bahkan Anthony Gordon yang dilepas Everton ke Newcastle dengan harga sekitar £40 juta pada Januari 2023, kini bernilai dua kali lipat—dan Arsenal dua kali menolak kesempatan itu.

Keengganan Membayar Mahal untuk Lini Depan

Paradoksnya, Arsenal tidak segan "membayar lebih" di lini tengah. Declan Rice ditebus £105 juta, dan Josh Kroenke sendiri mengakui nominal itu melebihi ekspektasi. Mereka juga berani menawar Bruno Guimaraes dan Eberechi Eze. Namun untuk sektor depan, ada kehati-hatian yang berlebihan—seolah takut mengulang kesalahan Nicolas Pepe yang dibeli mahal dari Lille.

Pendekatan ini membuat Arsenal lebih memilih pemain "buangan" klub besar: Kai Havertz yang tak diinginkan Chelsea, Raheem Sterling dengan status pinjaman, atau Gabriel Jesus yang tersingkir dari Manchester City. Strategi "mengakali pasar" ini sesekali berhasil, tapi tidak pernah konsisten.

Mengapa Arsenal Tak Kunjung Belajar?

Ada argumen bahwa pembelian dari luar negeri bisa menjadi solusi. Christos Tzolis, yang direkrut dari klub asal Yunani dengan harga di bawah £40 juta, sudah memberi dua assist di Community Shield dan dijuluki "reinkarnasi Trossard". Namun keberuntungan semacam ini tidak bisa diandalkan setiap musim.

Data dan analisis memang penting, tetapi seperti kata Ferguson: gol memenangkan pertandingan. Klub papan tengah akan menjual pemain terbaiknya jika ditawari nilai yang pantas. Arsenal punya uang, punya daya tarik, dan punya kebutuhan. Yang kurang hanyalah keberanian untuk mengambil keputusan yang terlihat jelas di depan mata.

Jika Arsenal terus menunda, musim demi musim akan berlalu dengan pola yang sama: mendekati, ragu, lalu pindah ke target lain. Sementara rival seperti Liverpool tak ragu mengambil Sadio Mane dari Southampton, atau Mohamed Salah dari Roma. Arsenal masih menunggu "Mane" mereka sendiri—padahal jawabannya mungkin sudah lewat di depan mata, tiga tahun lalu.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top