MANADO — Tradisi mapalus yang mengakar di budaya masyarakat Sulawesi Utara kini dihidupkan kembali sebagai senjata baru melawan stunting. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara resmi menggiatkan aksi gotong royong ini untuk memastikan tidak ada lagi anak yang tumbuh dengan kekurangan gizi kronis di daerah ujung utara Sulawesi tersebut.
Kepala Disdukcapil-KB Provinsi Sulawesi Utara, Christodharma Sondakh, menyebut inisiatif ini merupakan bentuk dukungan nyata daerah terhadap program nasional Genting. Filosofi mapalus yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama dinilai sejalan dengan semangat pencegahan stunting yang membutuhkan peran kolektif, bukan hanya kerja pemerintah.
"Mapalus adalah bagian dari jati diri masyarakat Sulawesi Utara, dan dari gotong royong tersebut mengajarkan bahwa ketika ada saudara yang membutuhkan dukungan, kita tidak tinggal diam," ujar Christodharma di Manado, Sabtu.
Menurutnya, lewat mapalus, masyarakat saling membantu, menopang, dan bekerja sama dalam mengawal tumbuh kembang anak. Pendekatan ini menjadi penting karena pencegahan stunting tidak bisa hanya diserahkan kepada tenaga kesehatan atau instansi pemerintah semata.
Christodharma menegaskan bahwa persoalan stunting bukan sekadar masalah kesehatan dan gizi semata. Ia menyebut kondisi ini sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak Sulawesi Utara yang kelak akan melanjutkan pembangunan daerah.
"Ini adalah persoalan masa depan. Ini adalah investasi kita kepada anak-anak Sulawesi Utara. Dan ini adalah bentuk tanggung jawab kita bersama kepada generasi yang akan melanjutkan pembangunan daerah ini," sebutnya.
Pernyataan tersebut selaras dengan visi pembangunan "Sulawesi Utara Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan" yang digagas pemerintah provinsi. Pada misi kedua visi tersebut, peningkatan sumber daya manusia menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar-tawar.
Data terbaru menunjukkan tren positif penurunan angka stunting di Sulawesi Utara. Prevalensi stunting di provinsi ini turun dari 21,3 persen menjadi 20,8 persen, sebuah capaian yang menunjukkan program intervensi yang berjalan mulai menunjukkan hasil.
Meski demikian, penurunan 0,5 persen tersebut masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Pemerintah daerah menilai percepatan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan aktif dari semua elemen, termasuk dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan tokoh agama yang tersebar di kabupaten dan kota.
Melalui penguatan aksi mapalus, pemerintah optimistis target penurunan stunting yang lebih agresif dapat tercapai. Gotong royong yang selama ini menjadi perekat sosial warga Sulawesi Utara diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan status gizi anak di setiap kampung dan kelurahan.