Demi 140 Kepala Keluarga, Petugas PLN Sewa Perahu Nelayan Terabas Ombak ke Pulau Salura NTT

Penulis: Boyke Sihombing  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:02:31 WIB
Petugas PLN bersama warga menurunkan peralatan dari perahu nelayan di bibir pantai Pulau Salura, NTT.

SULAWESI UTARA — Pulau Salura mungkin tidak masuk peta utama pariwisata Indonesia. Namun, bagi 140 kepala keluarga yang mendiaminya, listrik adalah nyawa bagi aktivitas sehari-hari. Dari penerangan rumah, belajar anak-anak di malam hari, hingga menjalankan mesin ekonomi dan komunikasi, semuanya bergantung pada pasokan energi yang dijaga PLN.

Menembus Gelombang Demi Suku Cadang

Menjaga mesin pembangkit di pulau terluar bukan pekerjaan mudah. Tim dari PLN Unit Layanan Pembangkit Listrik (ULPL) Waingapu harus menempuh perjalanan laut yang tidak bisa dijadwalkan secara pasti. Mereka bergantung pada perahu nelayan dan kondisi gelombang.

Ketika cuaca bersahabat, perjalanan membawa mesin, suku cadang, dan peralatan kerja langsung dieksekusi. Saat gelombang tinggi atau angin kencang datang, seluruh proses pemeliharaan terpaksa ditunda demi keselamatan.

Gotong Royong di Ujung Timur Indonesia

Setibanya di Pulau Salura, pekerjaan belum selesai. Tidak ada dermaga besar atau alat berat untuk membongkar muatan. Para petugas PLN bersama warga setempat bahu-membahu memindahkan peralatan dari bibir pantai menuju lokasi pembangkit.

Proses ini menjadi ritual yang memperkuat ikatan antara perusahaan listrik negara dan masyarakat. Amos Randanan, Manager PLN ULPL Waingapu, menjelaskan bahwa pemeliharaan rutin adalah kunci utama menjaga keandalan sistem.

"Pemeliharaan mesin pembangkit secara rutin kami laksanakan untuk memastikan pasokan listrik di Pulau Salura tetap andal. Meskipun berada di salah satu pulau terluar, masyarakat harus terus memperoleh layanan kelistrikan yang optimal," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (13/8).

Saat ini, pasokan listrik di Pulau Salura ditopang oleh dua jenis pembangkit, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kombinasi ini menjadi garda terakhir agar aliran listrik tidak padam, terutama saat malam hari.

Apresiasi dari Kepala Desa

Kepala Desa Praisalura, Panus Maramba Ndima, mengakui perjuangan para petugas PLN tidaklah ringan. "Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN yang terus berupaya menjaga pasokan listrik di Pulau Salura. Perjuangan petugas tidak mudah karena harus menyeberangi laut membawa berbagai peralatan. Listrik sangat penting bagi kehidupan masyarakat kami," tuturnya.

Tantangan geografis memang menjadi musuh utama, tetapi bukan alasan untuk berhenti. Rita Triani, General Manager PLN UIK Dwipantara, menegaskan bahwa tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dilayani.

"Tantangan medan, cuaca, maupun logistik tidak pernah mengurangi komitmen kami untuk terus menghadirkan listrik yang andal. Bagi PLN, tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dilayani karena setiap masyarakat memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses listrik yang andal dan berkelanjutan," jelas Rita.

Energi yang Berkeadilan

Upaya PLN di Pulau Salura adalah bagian kecil dari mandat besar perusahaan dalam menghadirkan energi berkeadilan. Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur listrik di Jawa dan Sumatra, komitmen memelihara pembangkit di pulau-pulau kecil sering luput dari sorotan.

Padahal, di balik setiap lampu yang menyala di Pulau Salura, terdapat dedikasi para petugas yang rela menembus ombak. Mereka memastikan terang tetap hadir bagi masyarakat di ujung timur Indonesia.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top