KOTAMOBAGU — Duka mendalam menyelimuti ajang drag race di Kelurahan Upai, Kotamobagu, Sulawesi Utara. Peristiwa yang terjadi akhir pekan ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga melukai sejumlah peserta dan penonton yang hadir.
PC IMM Kotamobagu menilai tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan cermin gagalnya manajemen risiko dalam sebuah kegiatan publik yang melibatkan banyak orang.
Randa Iskandar Lahati menegaskan bahwa olahraga otomotif seharusnya menjadi wadah positif bagi generasi muda. Namun, antusiasme tersebut tidak boleh mengabaikan protokol keamanan dasar bagi semua pihak yang terlibat.
"Keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan publik. Jangan sampai hiburan dan antusiasme masyarakat justru berakhir dengan kehilangan nyawa," tegas Randa saat dikonfirmasi, Minggu (9/8/2026).
Ia menyebut penyelenggara memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan lintasan aman, menyediakan petugas medis, serta membatasi jarak aman antara penonton dan area balap.
Di tengah duka yang dialami keluarga korban, PC IMM Kotamobagu mendorong aparat penegak hukum untuk bergerak cepat. Penyelidikan transparan dinilai penting untuk memastikan apakah ada kelalaian prosedur yang menyebabkan insiden fatal ini.
"Proses hukum perlu dilakukan secara objektif dan tidak boleh mengabaikan hak-hak para korban maupun keluarga yang ditinggalkan," ujarnya.
Randa menambahkan, "Nyawa manusia tidak boleh dikorbankan atas nama hiburan, euforia maupun kepentingan komersial."
Organisasi kemahasiswaan ini tidak hanya berhenti pada pernyataan belasungkawa. PC IMM Kotamobagu menyatakan akan memantau langsung perkembangan penanganan kasus oleh pihak berwenang.
Mereka juga mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk merumuskan regulasi yang lebih ketat mengenai izin penyelenggaraan event otomotif di Tanah Totabuan. Tujuannya jelas: memastikan tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. PC IMM Kotamobagu menyampaikan rasa belasungkawa dan duka cita yang paling mendalam kepada keluarga korban yang ditinggalkan," tutup Randa.