MANADO — Rangkaian reses anggota DPRD Sulawesi Utara dari Dapil Minahasa–Tomohon pada awal Agustus 2026 menghasilkan sejumlah catatan penting bagi pembangunan daerah. Para wakil rakyat yang tersebar di beberapa titik di Kabupaten Minahasa dan Kota Manado ini mengumpulkan aspirasi yang didominasi kebutuhan infrastruktur dasar dan fasilitas pendidikan.
Delapan legislator yang turun ke lapangan dalam agenda reses II ini antara lain Dra. Vonny J. Paat, Roy Oktavianus Roring, Poere Makisanti, Inggeid JNN Sondakh, Roger Mamesa, Grasia Oroh, Braien Woworuntu, dan Melisa Gerungan. Mereka berdialog langsung dengan warga, tenaga pendidik, hingga pengurus partai di tingkat ranting.
Salah satu agenda yang paling ramai adalah dialog di SMK Negeri 1 Tondano, Kelurahan Kembuan, Kecamatan Tondano Utara, pada Senin (3/8/2026). Sekitar 200 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, dan siswa memadati ruang pertemuan untuk menyampaikan persoalan dunia pendidikan.
Usulan yang mengemuka di antaranya renovasi ruang kelas dan bangunan sekolah yang sudah berusia tua, bantuan seragam serta alat tulis, beasiswa bagi siswa dari keluarga kurang mampu, hingga penyediaan bus sekolah untuk mempermudah akses pendidikan.
Menanggapi hal tersebut, Vonny J. Paat menegaskan bahwa reses adalah momen penting untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat. “Setiap aspirasi yang disampaikan menjadi amanah yang harus kami perjuangkan. Semoga sinergi antara DPRD, pemerintah, dan lembaga pendidikan dapat mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan merata, serta melahirkan generasi muda Sulut yang unggul dan berdaya saing,” ujarnya.
Di hari yang berbeda, Minggu (2/8/2026), Roy Oktavianus Roring menggelar reses di Kantor Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado. Kegiatan yang dihadiri pemerintah kelurahan, para kepala lingkungan, dan perwakilan warga ini menyoroti masalah perkotaan yang kerap muncul saat musim hujan.
Sejumlah kepala lingkungan mengusulkan perbaikan drainase di Lingkungan II dan III yang sering menyebabkan banjir saat curah hujan tinggi. Selain itu, warga juga meminta pengadaan kursi untuk kantor kelurahan dan seluruh lingkungan sebagai fasilitas kegiatan, pelebaran jalan menuju Yayasan Sekolah Kristen Imanuel di Lingkungan V, serta optimalisasi gedung pertemuan Lingkungan II yang merupakan eks bantuan sosial pokir mantan anggota dewan Arthur Kotambunan.
Royke menegaskan bahwa reses bukan sekadar agenda formal, melainkan wadah untuk mendengar kebutuhan riil masyarakat. “Aspirasi yang disampaikan menjadi bahan untuk disampaikan kepada pemerintah baik pemerintah Kota Manado maupun Provinsi,” ungkapnya.
Sementara itu, Piere Makisanti yang menggelar reses di Kelurahan Roong pada Sabtu (1/8/2026) lebih banyak menerima keluhan soal infrastruktur. Warga yang diwakili Sonny Supit menyoroti akses jalan di Tataaran Dua yang belum tertangani maksimal hingga memicu perbaikan swadaya oleh masyarakat.
Usulan lain yang disampaikan mencakup perbaikan akses jalan menuju gereja yang belum tersentuh pengaspalan maupun paving block, jalan perkebunan di Tondano Barat menuju kawasan Watulambot untuk menunjang ekonomi petani, pemasangan paving block akses Talete menuju SD GMIM 3 Tondano, pengaspalan jalan penghubung Marawas–Tumaluntung serta jalur Tataaran–Tondano–Tomohon, dan pembangunan jembatan penghubung SD Negeri 1 dan SD Negeri 6.
Menanggapi hal itu, Piere menyatakan komitmennya untuk mengawal berbagai masalah infrastruktur yang dialami masyarakat Tondano Barat melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan DPRD bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.