BITUNG — Ellen Honandar Sondakh tak ingin program pengelolaan sampah hanya menjadi wacana di atas kertas. Ia memilih turun langsung menemui warga, memberikan contoh konkret bagaimana limbah dapur bisa disulap menjadi barang yang punya nilai jual. Langkah ini merupakan bagian dari program kerja TP-PKK yang berfokus pada ekonomi sirkuler dan kemandirian keluarga.
Baru saja menyelesaikan agenda di Makassar, Ellen langsung bergerak ke titik-titik yang sudah dijadwalkan di Bitung. Ia tak ingin momentum peringatan Dekranas hanya berhenti sebagai seremoni. "Harus ada tindak lanjut yang dirasakan langsung oleh ibu-ibu PKK di kampung," ujarnya.
Kegiatan ini menyasar kelompok dasawisma dan kader lingkungan di beberapa kelurahan. Ellen mempraktikkan sendiri teknik pemilahan sampah organik dan anorganik, lalu menunjukkan proses pengolahannya menjadi pupuk kompos dan kerajinan tangan.
Yang membedakan dari kegiatan serupa adalah pendekatan yang dilakukan Ellen. Ia tak hanya memberikan materi di aula, tetapi ikut duduk di kursi kecil bersama warga, memegang botol bekas, dan memotong kain perca. "Saya ingin mereka melihat bahwa ini mudah. Tidak perlu alat canggih, yang penting kemauan," kata Ellen.
Ia mencontohkan bagaimana sampah plastik kemasan bisa diubah menjadi tas belanja dan dompet. Sementara sampah sisa sayuran dari dapur, jika diolah dengan metode yang benar, bisa menjadi pupuk cair yang subur dan laku dijual ke komunitas tanaman hias.
Ellen optimistis, dengan pendampingan yang rutin, setiap keluarga bisa menghemat pengeluaran sekaligus menambah pemasukan hingga Rp 500 ribu per bulan. "Bayangkan kalau seribu keluarga melakukan ini. Putaran uang di kampung bisa hidup," ujarnya.
Ia menekankan bahwa program ini tidak akan jalan tanpa peran aktif kader PKK dan dukungan dari lurah setempat. Karena itu, ia meminta setiap ketua TP-PKK di tingkat kelurahan untuk mulai mendata potensi sampah di wilayah masing-masing.
Ke depan, Ellen berencana menggandeng bank sampah binaan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung untuk menjadi offtaker hasil olahan warga. Dengan begitu, produk yang dihasilkan warga tidak hanya menumpuk, tetapi langsung terserap pasar. "Kita ciptakan ekosistem. Dari rumah, ke bank sampah, lalu ke konsumen," pungkasnya.