SULAWESI UTARA — Pekan ini, sirkuit berita kendaraan listrik global diramaikan tiga peristiwa besar. Mulai dari strategi pendanaan Rivian, gebrakan desain Xiaomi, hingga kehadiran mobil listrik mungil seharga kurang dari USD 14.000 di Amerika Serikat. Semua topik ini dibahas tuntas dalam episode terbaru Electrek Podcast.
Produsen asal Amerika Serikat itu resmi meluncurkan penjualan 75 juta lembar saham. Aksi korporasi ini ditargetkan meraup dana segar sekitar USD 1,5 miliar untuk mempercepat produksi SUV listrik generasi berikutnya, R2.
Langkah ini menunjukkan ambisi Rivian untuk tetap kompetitif di tengah tekanan biaya produksi yang tinggi. Dana segar itu akan digunakan untuk pengembangan pabrik dan platform baru.
Xiaomi tak hanya bermain di ponsel. Mereka memperkenalkan SkyNomad N90, sebuah kendaraan yang mengusung konsep "living room on wheels" atau ruang tamu berjalan. Desain interiornya mengedepankan kenyamanan layaknya ruang keluarga.
Belum ada detail teknis soal mesin atau baterai yang diungkap. Namun, pendekatan ini menegaskan bahwa Xiaomi ingin bersaing dengan pendekatan gaya hidup, bukan sekadar spesifikasi.
BYD, raksasa kendaraan listrik China, mengumumkan harga supercar listrik terbarunya. Mobil dengan tenaga lebih dari 1.500 hp ini dibanderol mulai hampir USD 200 ribu atau setara sekitar Rp 3,2 miliar.
Model ini menempatkan BYD langsung bersaing dengan hypercar listrik dari Rimac atau Lotus. Belum ada konfirmasi apakah model ini akan masuk ke pasar Indonesia.
Kabar gembira bagi konsumen Amerika yang menginginkan EV murah. Sebuah mobil listrik mini kini dijual dengan harga kurang dari USD 14.000 atau sekitar Rp 224 juta. Kendaraan ini menjadi salah satu EV termurah yang resmi dipasarkan di Negeri Paman Sam.
Meski ukurannya kecil, kehadirannya bisa menjadi alternatif transportasi perkotaan yang ekonomis. Sayangnya, belum ada informasi apakah model ini akan dijual di Indonesia.
Di tengah gempuran pemain baru, Toyota memutuskan menunda produksi Highlander versi baterai listrik (BEV). SUV listrik tiga baris kursi itu disebut-sebut di-back burner atau prioritasnya diturunkan.
Keputusan ini menunjukkan kehati-hatian Toyota dalam merespons permintaan pasar yang fluktuatif. Belum ada jadwal baru kapan model ini akan meluncur.