Impor Minyak 1 Juta Barel Per Hari, ASPEBINDO Dorong Pertamina Reaktivasi Ribuan Sumur Idle

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Rabu, 08 Juli 2026 | 14:17:01 WIB
Produksi minyak Indonesia mencapai 605 ribu barel per hari, jauh di bawah konsumsi nasional sebesar 1,6 juta barel per hari.

SULAWESI UTARA — Produksi minyak Indonesia saat ini hanya 605 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Artinya, ada celah hampir 1 juta barel yang harus dipenuhi dari impor minyak mentah maupun produk BBM jadi. Kondisi ini membuat harga BBM nonsubsidi di dalam negeri sangat rentan terhadap gejolak pasar global.

Wakil Sekretaris Eksekutif ASPEBINDO, Aldi Baktiar Arsy Hatapayo, menegaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi bukan sekadar persoalan harga di tingkat konsumen. "Ini adalah persoalan struktural dalam tata kelola energi nasional," ujarnya, Selasa (7/7).

Ribuan Sumur Idle Bisa Jadi Solusi Jangka Pendek

Salah satu langkah yang didorong ASPEBINDO adalah reaktivasi sumur-sumur minyak idle yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Aldi, ribuan sumur ini masih memiliki potensi produksi namun belum dioptimalkan secara maksimal.

"Optimalisasi sumur idle dan sumur tua seharusnya bisa menjadi salah satu langkah cepat untuk menambah kapasitas lifting minyak dalam negeri," jelas mahasiswa Magister Hukum Sumber Daya Alam Universitas Indonesia ini.

Reaktivasi sumur idle dinilai bisa menjadi solusi jangka pendek dan menengah untuk memperkecil jarak antara produksi dan konsumsi. Dengan dukungan teknologi, tata kelola yang tepat, serta kerja sama antara pemerintah, Pertamina, SKK Migas, dan pelaku usaha, sumur-sumur tersebut bisa kembali menjadi aset produktif.

Pertamina Butuh Kepastian Regulasi untuk Bangun Kilang Baru

Selain reaktivasi sumur, Aldi juga mendorong pembangunan infrastruktur kilang atau refinery. Menurutnya, dengan kapasitas pengolahan yang lebih besar, minyak mentah bisa diolah lebih optimal di dalam negeri sehingga impor produk BBM jadi bisa ditekan.

Namun, pembangunan kilang membutuhkan investasi besar dan jangka panjang. Karena itu, pemerintah harus memastikan adanya kepastian hukum, stabilitas regulasi, dan skema investasi yang menarik agar investor merasa aman menanamkan modal di sektor migas.

Aldi mencontohkan Malaysia yang berhasil menjadikan Petronas sebagai perusahaan energi global. "Petronas tidak hanya mengawasi investor, tetapi juga membangun kapasitas teknis sendiri dan berkembang menjadi pemain energi global," terangnya.

Indonesia, menurutnya, bisa mempelajari skema tata kelola migas dari negara-negara yang berhasil memberi kepastian bagi investor sekaligus menjaga kedaulatan negara atas sumber daya alam. Tanpa perubahan fundamental, siklus kenaikan harga BBM nonsubsidi akibat gejolak global akan terus berulang.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top