SULAWESI UTARA — Gempita Piala Dunia 2026 masih bergulung, tapi tujuh kursi pelatih tim nasional sudah kosong. Kombinasi hasil buruk, tekanan publik, dan kontrak yang tak diperpanjang menjadi penyebab utama. Dari Tunisia yang bertindak cepat hingga Belanda yang gagal melampaui pencapaian edisi sebelumnya, berikut ulasannya.
Keputusan tercepat datang dari Tunisia. Federasi sepak bola setempat memecat Sabri Lamouchi hanya setelah laga pertama Grup F. Penyebabnya, Tunisia dibantai Swedia dengan skor telak 1-5.
Federasi langsung menunjuk Herve Renard sebagai pengganti darurat, meski pada akhirnya langkah itu tak membawa hasil. Ini jadi contoh paling gamblang bagaimana satu kekalahan bisa berujung pemecatan instan di panggung terbesar sepak bola.
Kegagalan Korea Selatan di babak penyisihan berujung petaka bagi Hong Myung Bo. Ia memilih mundur setelah publik negaranya melontarkan komentar negatif dan boikot. Situasi makin runyam ketika muncul ancaman pembunuhan terhadap eks kapten timnas tersebut.
Tekanan psikologis yang ekstrem ini memaksanya mengambil langkah mundur demi keselamatan diri dan keluarga.
Marcelo Bielsa tak hanya meninggalkan kursi pelatih Uruguay, tetapi juga meluapkan kekesalannya secara terbuka. Dalam konferensi pers nyaris dua jam sepulang dari Piala Dunia, ia mengeluhkan pemain yang tak peduli dengan instruksinya.
La Celeste hanya mengemas dua poin dari dua hasil imbang dan satu kekalahan di babak penyisihan. Performa buruk ini memicu kemarahan pelatih berjuluk El Loco tersebut.
Ronald Koeman menjadi nama terakhir yang hengkang. Belanda tersingkir lebih awal dibanding edisi 2022, kala itu mereka mencapai perempat final. Kini, Oranje gugur usai kalah adu penalti dari Maroko di babak 32 besar.
Hasil ini langsung memicu perpisahan. Beberapa nama kandidat pengganti sudah mulai bermunculan di pemberitaan media Eropa.
Kepergian tujuh pelatih ini menjadi bukti bahwa Piala Dunia bukan sekadar turnamen, melainkan ajang pembuktian yang menentukan nasib karier. Kini, masing-masing federasi harus bergerak cepat mencari pengganti untuk membangun ulang tim menuju turnamen berikutnya.