Harga Kopra dan Cengkih di Sulawesi Utara Mulai Merangkak Naik Awal Juli 2026, Petani Mulai Panen

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 12:43:01 WIB
Harga kopra dan cengkih di Sulawesi Utara mulai naik seiring masa panen awal Juli 2026.

MANADO — Kopra dan cengkih, dua primadona perkebunan Sulawesi Utara, mulai merangkak naik pada awal Juli 2026. Kondisi ini dipantau langsung oleh Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara setelah harga kedua komoditas tersebut sempat stagnan dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga ini terjadi di tengah masa panen di sejumlah daerah seperti Minahasa, Bolaang Mongondow, dan Kepulauan Sangihe. Petani yang sebelumnya menahan hasil panen mulai melepas stok ke pasar.

Berapa Kenaikan Harga Kopra dan Cengkih Saat Ini?

Berdasarkan pantauan di tingkat petani, harga kopra kualitas super saat ini berada di kisaran Rp 12.500 hingga Rp 13.000 per kilogram, naik dari posisi sebelumnya yang sempat bertahan di Rp 11.000 per kilogram. Sementara itu, harga cengkih kering naik ke level Rp 110.000 per kilogram, setelah sebelumnya berkisar Rp 95.000 hingga Rp 100.000 per kilogram.

Kenaikan ini belum merata di semua titik. Di beberapa kecamatan di Kabupaten Minahasa Selatan, harga kopra masih bertahan di Rp 11.500 per kilogram. Namun, trennya mulai menunjukkan pergerakan positif.

Apa yang Mendorong Harga Mulai Naik?

Kepala Dinas Perkebunan Sulawesi Utara, melalui keterangan yang diterima redaksi, menyebutkan bahwa permintaan dari industri pengolahan dan eksportir mulai meningkat. "Mulai ada serapan dari pabrik minyak kelapa dan pengolahan cengkih di Manado dan Bitung," ujarnya.

Selain itu, musim panen yang mulai serempak di beberapa wilayah juga membuat pasokan lebih teratur. Petani yang sebelumnya menimbun stok karena harga rendah, kini mulai menjual hasil kebun mereka.

Fakta Singkat Pergerakan Harga Komoditas Sulut Awal Juli 2026:

  • Kopra kualitas super: Rp 12.500 – Rp 13.000 per kg (naik dari Rp 11.000).
  • Cengkih kering: Rp 110.000 per kg (naik dari Rp 95.000 – Rp 100.000).
  • Daerah panen utama: Minahasa, Bolaang Mongondow, Kepulauan Sangihe.
  • Pemicu kenaikan: Meningkatnya permintaan dari industri pengolahan di Manado dan Bitung.

Dampak Langsung bagi Petani di Kampung

Di Desa Talawaan, Minahasa Utara, petani kopra bernama Yoseph Rondonuwu mengaku lega dengan kenaikan ini. "Kemarin kami sempat bingung, harga anjlok. Sekarang mulai ada harapan," katanya saat ditemui di kebunnya.

Yoseph mengatakan, dengan harga saat ini, ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 2 juta per minggu dari hasil panen kopra di lahan seluas satu hektare. Angka itu naik sekitar 20 persen dibandingkan bulan lalu.

Apakah Kenaikan Ini Akan Bertahan?

Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara memperkirakan tren kenaikan harga akan bertahan hingga akhir Juli 2026, seiring dengan masih berlangsungnya masa panen di beberapa kabupaten. Namun, mereka mengingatkan petani untuk tidak menimbun stok terlalu lama karena fluktuasi harga komoditas masih mungkin terjadi.

Pemerintah provinsi juga terus memantau rantai distribusi agar harga di tingkat petani tidak terpotong terlalu besar oleh tengkulak. "Kami dorong petani untuk bergabung dalam koperasi agar posisi tawarnya lebih kuat," pungkas Kepala Dinas Perkebunan.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: manadopost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top