SULAWESI UTARA — Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Senin (29/6) di zona hijau. Mata uang Garuda menguat 0,32 persen ke posisi Rp17.865 per dolar AS, mematahkan tren pelemahan beberapa hari terakhir. Penguatan ini sejalan dengan pergerakan ringgit Malaysia yang naik 0,40 persen dan peso Filipina yang terapresiasi 0,06 persen.
Namun, momentum ini belum tentu bertahan lama. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperingatkan bahwa sentimen eksternal justru kembali memburuk. "Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring kembali terjadinya eskalasi di Timur Tengah oleh saling serang antara Iran dan AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Pagi ini, pergerakan mata uang kawasan terbelah. Di satu sisi, ringgit Malaysia memimpin penguatan. Di sisi lain, sejumlah mata uang justru tertekan dolar AS. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,49 persen, disusul yuan China yang turun 0,07 persen, dan dolar Singapura yang melemah 0,06 persen.
Yen Jepang dan dolar Hong Kong juga tak luput dari tekanan, meski koreksinya tipis, masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa dolar AS masih perkasa di sebagian besar pasar Asia, dan penguatan rupiah lebih bersifat selektif ketimbang tren umum.
Eskalasi geopolitik antara Iran dan AS bukan sekadar berita politik. Bagi pasar valuta asing, konflik ini langsung berdampak pada harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak otomatis membengkakkan biaya impor energi Indonesia, yang pada akhirnya menekan kurs rupiah.
Ketidakpastian perdamaian di kawasan juga mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, bisa mempercepat pelemahan rupiah. "Ini memicu ketidakpastian pada prospek perdamaian di kawasan dan kenaikan harga minyak mentah dunia," tambah Lukman.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada di rentang yang cukup lebar, antara Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Artinya, meski pagi ini menguat, rupiah masih memiliki ruang untuk melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 jika tekanan geopolitik terus meningkat.
Investor dan pelaku bisnis yang memiliki eksposur valuta asing disarankan untuk mencermati perkembangan konflik Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dalam beberapa jam ke depan. Fluktuasi intraday berpotensi terjadi secara tiba-tiba.
Investasi mengandung risiko.