MANADO — Dua wilayah yang bertetangga di Sulawesi Utara ini merasakan tekanan harga yang sangat berbeda. Data BPS Sulut yang dirilis Selasa (2/6/2026) menunjukkan inflasi tahunan provinsi secara agregat berada di angka 2,33 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 111,10. Namun, angka rata-rata itu menyembunyikan disparitas yang mencolok antar daerah.
Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, menjelaskan bahwa inflasi tinggi di Manado utamanya didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara. Sebagai pusat bisnis, pendidikan, dan layanan pemerintahan, mobilitas udara di Manado menjadi yang tertinggi di Sulut.
“Tingkat inflasi tahunan Mei 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, namun secara bulanan justru terjadi deflasi sehingga tekanan harga relatif terkendali,” kata Watekhi dalam rilisnya.
Berbeda dengan Manado, Kabupaten Minahasa Utara memiliki struktur ekonomi yang lebih bertumpu pada aktivitas lokal, industri, dan kawasan ekonomi khusus. Porsi pengeluaran untuk transportasi udara dalam keranjang belanja warga Minut sangat kecil, membuat daerah ini relatif kebal terhadap gejolak harga tiket pesawat. Hasilnya, inflasi di Minut tetap rendah meskipun tekanan harga terasa di kota tetangga.
Bagi warga Manado, ada dua komponen lain yang menekan dompet. Pertama, biaya pendidikan yang melonjak 9,71 persen secara tahunan menjelang tahun ajaran baru Juli 2026. Kedua, secara bulanan, seluruh Sulut justru mengalami deflasi 0,61 persen pada Mei 2026. Kabar baik ini didorong oleh penurunan harga ikan seiring membaiknya cuaca dan meningkatnya hasil tangkapan nelayan.
Kesenjangan inflasi antara Manado dan Minahasa Utara ini bukanlah fenomena baru, namun data Mei 2026 memperlihatkannya dengan sangat jelas. Perbedaan struktur ekonomi, pola konsumsi, dan aksesibilitas layanan menciptakan pengalaman harga yang sangat berbeda, bahkan dalam satu provinsi yang sama.