Data dari SoSoValue menunjukkan periode 11 sesi perdagangan yang dimulai pada 15 Mei lalu itu melampaui rekor sebelumnya, yakni delapan hari berturut-turut yang tercatat pada Februari 2025. Pada sesi terbaru, investor kembali menarik USD 484 juta dari produk ETF tersebut, mendorong harga bitcoin turun 4% selama perdagangan Asia.
Namun, selera risiko di Wall Street masih tinggi. Saham Nvidia melonjak 6% dan saham-saham lain yang terkait dengan semikonduktor serta AI justru kebanjiran minat investor. Pergeseran ini menunjukkan dana yang sebelumnya mengalir ke aset kripto kini dialihkan ke sektor teknologi yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan lebih jelas dalam jangka pendek.
Tanda pelemahan permintaan institusional lainnya datang dari Strategy (MSTR), perusahaan pemegang bitcoin terbesar di dunia. Entitas itu mengungkapkan telah menjual 32 bitcoin senilai sekitar USD 2,5 juta pada pekan ini. Meskipun jumlahnya kecil dibandingkan total kepemilikan perusahaan, aksi jual ini merupakan yang pertama sejak Desember 2022.
Penjualan itu dilakukan untuk mendanai distribusi salah satu penawaran saham preferen mereka. Langkah ini kontras dengan sikap Executive Chairman Michael Saylor yang selama berbulan-bulan menggaungkan strategi beli-dan-tahan (buy-and-hold).
Dalam laporan mingguan terbarunya, CryptoQuant memperingatkan bahwa bitcoin semakin menjadi pasar yang didominasi oleh pemegang (holders) ketimbang pembeli baru. Laju akumulasi ETF dan treasury korporasi disebut melambat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Rekor penarikan ETF saat ini menjadi bukti lain bahwa salah satu sumber permintaan utama yang menopang reli bitcoin mungkin mulai mengering.
Fenomena ini menarik dicermati oleh investor kripto di Indonesia. Pasar domestik kerap mengikuti pergerakan institusional global, dan pelemahan permintaan dari korporasi serta ETF bisa berdampak pada sentimen jangka pendek di bursa kripto lokal.