POHUWATO — Selama bertahun-tahun, petani di Desa Suka Damai, Kecamatan Lemito, harus merogoh kocek lebih dalam setiap kali musim hujan tiba. Jalan setapak yang menjadi jalur distribusi jagung, kelapa, dan kakao berubah menjadi kubangan lumpur. Kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan menjangkau area pertanian, membuat ongkos angkut melonjak dan produktivitas terhambat.
Kondisi itu mulai berubah setelah PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (UID Suluttenggo) merealisasikan pembangunan Jalan Usaha Tani di desa tersebut. Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.
General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, menyatakan bahwa pembangunan jalan ini bukan sekadar proyek infrastruktur fisik. Menurutnya, program ini membuka akses terhadap kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi petani di pelosok.
“Kami percaya bahwa kemajuan sebuah daerah dimulai dari penguatan ekonomi masyarakat desanya. Kami ingin memastikan kehadiran PLN dapat dirasakan langsung manfaatnya, membantu petani memangkas biaya operasional, dan mempercepat distribusi hasil bumi ke pasar,” ujar Usman dalam keterangan yang diterima redaksi.
Kini, kendaraan pengangkut hasil tani bisa masuk langsung hingga dekat area perkebunan tanpa terkendala lumpur. Efisiensi waktu dan biaya transportasi yang terpangkas memberikan ruang bagi petani untuk menikmati hasil panen secara lebih utuh.
Kepala Desa Suka Damai, Yusuf Abubakar Mohi, mengaku tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menyebut rata-rata petani di wilayahnya sangat terbantu karena biaya pengangkutan yang sebelumnya membebani kini berkurang signifikan.
“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PLN atas bantuan pembangunan Jalan Usaha Tani ini. Bantuan ini sangat mempermudah akses pertanian dalam hal pengangkutan hasil-hasil pertanian seperti jagung, kelapa, dan cacao,” ungkap Yusuf.
Usman menambahkan, program ini sejalan dengan visi PLN untuk memberikan kontribusi yang melampaui bisnis kelistrikan. Menurutnya, listrik memang menggerakkan kehidupan, tetapi infrastruktur yang layak adalah penggerak utama roda perekonomian masyarakat desa.
“Kami berharap jalan baru ini menjadi jembatan bagi para petani di Lemito menuju masa depan yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing tinggi,” pungkas Usman.