Premier League Musim Ini Buktikan Manajemen Cerdas Masih Bisa Mengangkat Klub Kecil, Bukan Sekadar Uang

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 03:59:01 WIB
Sunderland merayakan pencapaian luar biasa dengan finis ketujuh Liga Premier musim ini.

SULAWESI UTARA — Hari terakhir musim Liga Premier Inggris, Minggu (19/5), menghadirkan tontonan luar biasa: sepuluh pertandingan berlangsung serempak dengan drama masing-masing. Bagi penonton modern yang terbiasa dengan siaran langsung televisi, momen seperti ini mungkin terasa berlebihan. Namun, dari pusaran narasi yang rumit itu, satu tema utama muncul ke permukaan: ini adalah liga yang sangat keras dan kompetitif, di mana setiap kesalahan kecil dihukum tanpa ampun.

West Ham dan Tottenham: Pelajaran Pahit dari Pengelolaan Buruk

Nasib West Ham menjadi contoh paling gamblang. Meski menyewa Stadion Olimpiade 2012 dengan harga sangat murah dan menerima £100 juta dari transfer Declan Rice pada 2023, klub London itu justru terdegradasi ke Championship. Butuh kesalahan manajemen yang spektakuler untuk menyia-nyiakan keuntungan sebesar itu.

Tottenham, meski selamat dari degradasi dengan kemenangan tipis 1-0 atas Leeds, juga menunjukkan betapa buruknya pengelolaan klub dalam dua tahun terakhir. Ketegangan di Stadion Tottenham Hotspur saat injury time—saat semua orang sadar West Ham unggul 3-0—menjadi bukti bahwa tidak ada yang benar-benar aman.

Sunderland: Dari Liga Satu ke Eropa dalam Empat Tahun

Di sisi lain, Sunderland mencatat pencapaian paling menonjol musim ini. Empat tahun lalu mereka masih di League One, dua tahun lalu finis ke-16 di Championship, dan setahun lalu baru promosi melalui play-off. Kemenangan atas Chelsea, ditambah kekalahan Brighton dan hasil imbang Brentford di Liverpool, membawa mereka finis di posisi ketujuh—menyamai catatan terbaik sejak pertama kali terdegradasi dari kasta tertinggi pada 1958.

Ini adalah pencapaian terbaik tim promosi sejak Ipswich Town pada 2000-01. Musim depan, Sunderland akan menjalani petualangan Eropa kedua dalam sejarah mereka. Leeds, yang finis di peringkat ke-14 dengan nyaman delapan poin di atas zona degradasi, memberikan harapan bagi tim promosi lain bahwa rekrutmen cerdas bisa membawa hasil lebih dari sekadar bertahan hidup.

Bournemouth dan Brighton: Mimpi yang Tak Terbayangkan

Bournemouth, yang 17 tahun lalu terancam bubar, finis di posisi keenam dan lolos ke Liga Europa. Pelatih Andoni Iraola melakukan pekerjaan luar biasa: kiper dan tiga dari empat beknya dijual musim panas lalu, plus Antoine Semenyo hengkang ke Manchester City pada Januari. Namun, mereka tetap bersaing hingga hari terakhir untuk tiket Liga Champions.

Brighton, meski kalah telak dan turun ke Conference League, tetap menjalani musim Eropa kedua mereka. Para penggemar tampak puas dengan prospek perjalanan asing lebih lanjut, apa pun kompetisinya.

Arsenal Juara, Tapi Bukan dengan Gaya Menekan

Arsenal mungkin bukan juara paling spektakuler secara permainan. Sulit mengklaim sepak bola mereka menawarkan sensasi estetika seperti Manchester City di puncak kejayaan. Namun, keberhasilan mereka menantang model sepak bola dominan berbasis anggaran gaji patut diapresiasi. Liga Premier kini memiliki juara yang terus berjuang melawan keraguan mereka sendiri, bukan juara yang menekuk liga dengan kekuatan finansial.

Penggembungan klasemen juga menjadi kabar baik. Era juara dengan poin di atas 90 tampaknya berakhir, begitu pula era di mana poin 30-an cukup untuk bertahan. Sepak bola Inggris masih terstratifikasi berdasarkan kekayaan pemilik klub, tetapi piramida Inggris tetap menjadi tempat di mana manajemen yang cerdas bisa mengangkat sebuah klub—dan kelalaian serta kecerobohan dihukum tanpa ampun.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top