SULAWESI UTARA — VinFast menargetkan kandungan komponen dalam negeri (TKDN) di Indonesia menembus 80 persen mulai 2030, naik bertahap dari target 40 persen pada 2026. Produsen asal Vietnam itu membangun pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan investasi lebih dari US$1 miliar dan kapasitas awal 50 ribu unit per tahun.
Pabrik VinFast di Subang mulai beroperasi pada Desember 2025 dengan luas 171 hektare. Tahap pertama investasi mencapai US$300 juta, mencakup lini pengelasan bodi, pengecatan, perakitan, pemeriksaan kualitas, hingga gudang logistik.
Fasilitas tersebut disiapkan untuk merakit sejumlah model, termasuk VF 3, VF 5, VF 6, VF 7, Limo Green, dan MPV 7. Pada tahap berikutnya, kapasitas produksi direncanakan naik hingga 350 ribu unit per tahun.
Jalur TKDN Bertahap hingga 2030
VinFast menetapkan target kandungan lokal lebih dari 40 persen pada 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2029, lalu mencapai 80 persen mulai 2030. Peningkatan itu berjalan seiring pembangunan fasilitas manufaktur dan kawasan pemasok (supplier park) di sekitar pabrik.
Langkah ini membuka ruang bagi pemasok dan kontraktor lokal sekaligus memperpendek rantai pasok. Kebutuhan produksi tidak berhenti di lini perakitan kendaraan, tetapi mencakup produsen komponen, jasa logistik, transportasi, keamanan, hingga usaha pendukung di sekitar kawasan industri.
Serapan Tenaga Kerja dan Rencana Ekspansi
Saat ini, fasilitas VinFast di Subang menyerap sekitar 1.700 tenaga kerja. Ketika beroperasi dengan kapasitas penuh, jumlah lapangan kerja langsung diperkirakan mencapai 5.000 hingga 15.000 pekerjaan, ditambah peluang kerja tidak langsung di sepanjang rantai pasok.
Pasar kendaraan listrik nasional sendiri tumbuh cepat. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan wholesales mobil listrik melonjak dari 10.327 unit pada 2022 menjadi 43.193 unit pada 2024, lalu menembus 103.931 unit pada 2025.
Dorongan Pemerintah untuk Rantai Pasok Lokal
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan penguatan rantai pasok dalam negeri agar pertumbuhan industri kendaraan listrik ikut meningkatkan nilai tambah produksi nasional.
"Pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia harus diikuti dengan penguatan rantai pasok dalam negeri untuk mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih, sekaligus meningkatkan nilai tambah produksi nasional melalui kemitraan dengan IKM komponen lokal," ujarnya.
Kemitraan dengan industri kecil dan menengah (IKM) komponen lokal menjadi bagian dari strategi tersebut. Penggunaan komponen lokal juga diarahkan menekan ketergantungan pada pasokan impor dan mendukung efisiensi produksi serta distribusi.
Kesiapan Talenta untuk Manufaktur EV
Peningkatan TKDN tidak hanya menuntut investasi fasilitas fisik, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu menjalankan teknologi kendaraan listrik. Industri EV semakin mengandalkan teknologi baterai, perangkat lunak, otomasi, kecerdasan buatan, dan sistem konektivitas.
Kebutuhan tenaga kerja pun bergeser dari sekadar tenaga manufaktur menuju keterampilan teknis dan digital. VinFast menjalankan program pengembangan talenta melalui kerja sama dengan institusi pendidikan.
Di Indonesia, perusahaan memberikan pelatihan kepada staf manajerial di Vietnam selama tiga hingga empat bulan. VinFast juga mendatangkan tenaga ahli dari Vietnam untuk melatih teknisi lokal, bagian dari upaya membangun kemampuan tenaga kerja yang mengikuti perkembangan manufaktur kendaraan listrik.