SULAWESI UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 1,20% ke level 6.298,61 pada perdagangan Kamis (24/9). Tekanan datang dari koreksi saham perbankan besar dan aksi jual investor asing yang mencatat net sell Rp1,42 triliun di pasar reguler.
Koreksi indeks terjadi di tengah pelemahan hampir seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia. Dari 11 sektor yang tercatat, semuanya berakhir di zona merah, dengan sektor Basic Materials mencatat penurunan paling dalam mencapai 2,17%.
Investor asing tercatat melepas saham secara agresif. Di pasar reguler, net sell asing mencapai Rp1,42 triliun, sementara di seluruh pasar nilai jual bersihnya mencapai Rp1,49 triliun.
Saham Perbankan Besar Jadi Penekan Utama Indeks
Empat bank berkapitalisasi pasar terbesar memberikan kontribusi negatif gabungan 26 poin terhadap IHSG. BBCA menyumbang -9,79 poin, disusul BBRI -7,29 poin, BMRI -6,61 poin, dan BBNI -2,31 poin.
Pergerakan saham bank besar ini sejalan dengan pelemahan instrumen yang merepresentasikan pasar Indonesia. ETF EIDO melemah 1,71%, sedangkan MSCI Indonesia turun 1,56%.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham justru mencatat penguatan. FORU melonjak 24,58%, DSSA naik 1,87%, dan DCII menguat 1,52%. Namun kenaikan ini tidak cukup menahan laju penurunan indeks secara keseluruhan.
HRTA Gandeng Freeport untuk Pasokan Emas Domestik
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menambah sumber pasokan emas melalui kerja sama dengan PT Freeport Indonesia. Kedua pihak menandatangani Gold Bar Spot Sale and Purchase Agreement untuk pembelian emas murni berkadar 99,99%.
Emas yang dibeli berbentuk cast bars dengan berat 1 kilogram dan diproduksi di fasilitas Precious Metal Refinery milik PTFI di Gresik, Jawa Timur. Pada tahap awal, HRTA telah membeli 50 kilogram emas murni yang diterima di fasilitas Bandung pada 16 September 2026.
Kerja sama dengan PTFI melengkapi daftar pemasok domestik HRTA. Sebelumnya, perseroan telah menjalin kemitraan dengan Agincourt Resources (Tambang Emas Martabe) dan Danusa Tambang Nusantara, keduanya bagian dari Grup United Tractors, serta fasilitas pemurnian Emas Murni Abadi.
Dari sisi kapasitas, HRTA menargetkan pabrik terintegrasi mencapai 60 ton per tahun. Kapasitas refinery juga ditingkatkan menjadi 30 ton per tahun dari sebelumnya 18 ton.
BYAN Cabut Force Majeure, Kuota Produksi Bertambah 20 Juta Ton
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencabut status force majeure pada tiga anak usahanya, yaitu Tiwa Abadi, Tanur Jaya, dan Fajar Sakti Prima. Pencabutan ini dilakukan setelah ketiga entitas memperoleh persetujuan perubahan RKAB 2026 dari Kementerian ESDM pada 23 September 2026.
Dengan persetujuan tersebut, ketiga anak usaha dapat kembali menjalankan kewajiban penyediaan batu bara sesuai Coal Supply Agreement kepada pelanggan. Aktivitas produksi, pengangkutan, dan penjualan kembali berjalan normal.
Perubahan RKAB juga memberikan tambahan kuota produksi hingga 20 juta ton. Tambahan ini memperbesar ruang produksi ketiga entitas dibanding kondisi sebelumnya.
NICL Bagikan Dividen Interim Rp6 per Saham
PT PAM Mineral Tbk (NICL) memutuskan pembagian dividen tunai interim untuk periode buku Juni 2026 sebesar Rp6 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp63,81 miliar.
Keputusan ini ditetapkan melalui Keputusan Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris pada 23 September 2026. Laba bersih setelah pajak NICL tercatat Rp121,60 miliar untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, dengan total aset Rp962,05 miliar dan kekayaan bersih Rp831,24 miliar.
Dividend payout ratio mencapai 52,48% dari laba bersih semester I-2026. Setelah pembagian dividen, kekayaan bersih NICL diproyeksikan menjadi Rp767,43 miliar, masih di atas modal disetor dan cadangan wajib Rp468,66 miliar sesuai Pasal 72 UUPT.
Saham NICL ditutup di level Rp434 per saham pada 24 September 2026. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim Rp6 per saham setara dengan dividend yield 1,38%. Perseroan belum menetapkan jadwal cum date dan tanggal pembayaran dividen.
Disclaimer: Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.