SULAWESI UTARA — Nasir al-Hammashi merakit miniatur helikopter dan kendaraan tempur dari limbah logam di Irak. Karya pria itu lahir dari ketekunan memanfaatkan barang bekas yang banyak ditemukan di sekitarnya. Hasilnya bukan sekadar replika, melainkan bukti bahwa bahan terbuang masih bisa jadi objek bernilai.
Nasir al-Hammashi tidak memulai dari bengkel besar atau peralatan mahal. Pria asal Irak itu mengumpulkan potongan logam bekas, lalu merangkainya menjadi miniatur helikopter dan kendaraan tempur. Prosesnya berlangsung bertahap, mengandalkan keterampilan tangan dan ketelitian saat menyambung tiap komponen.
Bahan yang dipakai berasal dari limbah logam di sekitar tempat tinggalnya. Alih-alih dibuang, sisa besi itu dipotong, dibentuk, dan disusun ulang hingga menyerupai bentuk kendaraan militer dalam ukuran kecil.
Miniatur yang dibuat mencakup helikopter dan sejumlah kendaraan tempur. Tiap unit dikerjakan dengan memperhatikan proporsi bodi, rotor, hingga bagian bawah kendaraan. Detail kecil seperti itu yang membuat hasil karyanya berbeda dari sekadar mainan logam biasa.
Ketekunan menjadi kunci utama. Nasir al-Hammashi mengerjakan setiap miniatur secara manual, tanpa cetakan pabrik. Proses pemotongan dan penyambungan logam bekas menuntut kesabaran karena bahan yang dipakai tidak seragam bentuk maupun ketebalannya.
Pemanfaatan limbah logam jadi inti dari pekerjaan ini. Bahan yang semula dianggap sampah berubah fungsi menjadi objek yang punya nilai visual dan keterampilan. Pendekatan itu sekaligus mengurangi tumpukan besi bekas yang dibiarkan di lingkungan sekitar.
Karya semacam ini menunjukkan bahwa bahan daur ulang bisa diolah jadi produk bernilai. Tidak perlu bahan baru atau mesin canggih untuk menghasilkan sesuatu yang menarik perhatian.
Merakit miniatur kendaraan tempur dari besi bekas bukan pekerjaan umum. Dibutuhkan pemahaman bentuk kendaraan asli, kemampuan memotong logam, dan kepekaan saat menyusun tiap bagian agar hasilnya proporsional.
Nasir al-Hammashi mengerjakan semuanya sendiri. Dari memilih limbah logam, memotong, membentuk, sampai merangkai jadi satu unit miniatur yang utuh.
Keterbatasan bahan dan alat tidak menghalangi Nasir al-Hammashi berkarya. Justru dari kondisi itu, ia menemukan cara sendiri untuk menghasilkan miniatur yang punya ciri khas.
Karya berbahan limbah logam seperti ini memperlihatkan satu hal sederhana: barang bekas masih menyimpan potensi, asal ada keterampilan dan kemauan mengolahnya.