SULAWESI UTARA — PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) menghabiskan sekitar Rp3,02 miliar untuk kegiatan eksplorasi nikel dan batu kapur pada periode Juli hingga September 2026. Eksplorasi menyasar wilayah Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, melalui dua anak usaha perseroan.
Dari total Rp3,02 miliar, porsi terbesar digelontorkan untuk eksplorasi nikel. MPR dan IMN menelan biaya sekitar Rp2,99 miliar untuk pengeboran di Blok Pit MPR dan IMN. Metode yang dipakai adalah core drilling HQ, bekerja sama dengan pihak ketiga.
Program pengeboran dirancang dengan tiga pola spasi, yaitu 100 meter x 100 meter, 50 meter x 50 meter, dan 25 meter x 25 meter. Pola spasi yang semakin rapat biasanya dipakai untuk meningkatkan keyakinan terhadap kontinuitas dan kadar mineralisasi sebelum masuk tahap studi kelayakan.
Hingga periode ini, MPR dan IMN telah menyelesaikan pengeboran di 173 titik. Total kedalaman yang dicapai menembus 3.697 meter. Sampel hasil pengeboran masih dalam proses analisis laboratorium, sehingga kadar dan potensi sumber daya belum bisa disimpulkan.
Angka 173 titik dan kedalaman hampir 3,7 kilometer menunjukkan eksplorasi berjalan cukup intensif dalam tiga bulan. Namun, hasil akhirnya bergantung pada analisis sampel untuk menentukan apakah temuan ini layak dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Selain nikel, DKFT juga mengalokasikan dana untuk eksplorasi batu kapur. Meski nilainya lebih kecil dibandingkan nikel, langkah ini sejalan dengan strategi perseroan memperluas basis komoditas di kawasan Morowali Utara.
Morowali Utara sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran smelter dan kawasan industri di sekitarnya membuat pasokan bahan baku dari tambang lokal menjadi krusial.
Bagi DKFT, belanja eksplorasi ini merupakan pengeluaran yang wajar di sektor pertambangan. Perusahaan harus memastikan cadangan dan sumber daya yang cukup sebelum menggenjot produksi. Tanpa eksplorasi berkelanjutan, umur tambang bisa lebih pendek dari proyeksi.
Pasar biasanya menanti hasil analisis sampel sebagai katalis. Jika kadar nikel yang ditemukan memadai, DKFT berpeluang meningkatkan estimasi sumber daya dan menarik mitra strategis. Sebaliknya, jika hasilnya di bawah ekspektasi, belanja eksplorasi ini hanya menjadi biaya tanpa tambahan cadangan signifikan.
Harga nikel global juga akan mempengaruhi daya tarik proyek. Ketika harga komoditas sedang lesu, eksplorasi tetap jalan tapi keputusan investasi lanjutan sering ditunda. Sebaliknya, saat harga menguat, hasil eksplorasi positif bisa langsung dieksekusi.
Penutup: Langkah DKFT mengebor 173 titik dan menembus 3.697 meter menunjukkan perseroan tidak sekadar mengejar produksi jangka pendek, tapi menyiapkan pipeline cadangan. Hasil analisis sampel dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah belanja Rp3,02 miliar ini berbuah menjadi sumber daya baru atau sekadar biaya eksplorasi rutin.