China Setop Ekspor BBM Sepanjang Oktober, Harga Brent Melonjak ke USD101,50

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Minggu, 04 Oktober 2026 | 08:33:31 WIB
Harga minyak mentah Brent naik hampir 4% ke USD101,50 per barel setelah China menghentikan ekspor produk minyak olahan sepanjang Oktober 2026.

SULAWESI UTARA — Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 4% menjadi USD101,50 per barel setelah China menghentikan seluruh ekspor produk minyak olahan sepanjang Oktober 2026. Kebijakan Beijing itu memaksa kilang-kilang PetroChina membatalkan pengiriman diesel, bensin, dan jet fuel yang semula dijadwalkan cair bulan ini. Pasar energi global kembali bergejolak di tengah krisis pasokan akibat perang di Timur Tengah.

Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), ikut menguat 2% ke posisi USD92,54 per barel pada perdagangan akhir pekan lalu. Laporan Reuters menyebut kilang-kilang utama China, termasuk PetroChina, menghentikan pengiriman ekspor produk minyak olahan selama periode libur panjang nasional Golden Week. Selama rentang itu, izin ekspor hanya diberikan untuk Hong Kong dan Makau.

Beijing mengambil langkah ini untuk mengamankan cadangan bahan bakar dalam negeri di tengah ketidakpastian geopolitik. PetroChina bahkan dilaporkan telah membatalkan sejumlah kargo jet fuel dan bensin yang tadinya dijadwalkan keluar dari terminal-terminal ekspornya bulan ini.

Diesel dan Avtur Jadi Titik Paling Rentan

Dampak kebijakan ini paling terasa pada dua produk yang paling sensitif dalam rantai pasok global, yakni diesel dan bahan bakar penerbangan. Di Amerika Serikat, harga solar untuk sektor industri telah menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pembeli di negara-negara Asia dan Eropa kini harus bersaing memperebutkan sisa pasokan produk olahan yang volumenya sudah tipis. Ceruk pasokan itu biasanya dipasok dari kilang-kilang China yang kapasitas ekspornya termasuk terbesar di dunia.

"Jika pasokan BBM dari Tiongkok menghilang dari pasar ekspor, para pembeli di negara lain terpaksa berebut dari ceruk pasokan produk olahan yang sudah sangat terbatas," kata Anindya Banerjee, Kepala Riset Mata Uang & Komoditas Kotak Neo.

Brent Tembus Ambang Psikologis USD100

Level USD101,50 per barel menandai pertama kalinya Brent kembali ke atas USD100 dalam periode krisis energi kali ini. Lonjakan hampir 4% dalam satu sesi menunjukkan pasar bereaksi cepat terhadap risiko kelangkaan pasokan jangka pendek.

Perang di Timur Tengah sebelumnya sudah menekan pasokan dari sisi minyak mentah. Penghentian ekspor produk olahan China menambah tekanan dari sisi hilir, sehingga kenaikan harga tidak hanya terjadi di minyak mentah tetapi juga di produk turunannya.

Tekanan Baru bagi Importir BBM Indonesia

Indonesia termasuk negara yang mengimpor sebagian besar kebutuhan diesel dan avtur dari pasar Asia. Hilangnya pasokan China selama sebulan berpotensi mendorong harga impor BBM naik dan menekan neraca perdagangan migas.

Pertamina belum memberi keterangan resmi soal dampak kebijakan ini terhadap rencana impor Oktober. Namun pelaku pasar energi memperkirakan premi harga produk olahan di Asia akan melebar selama periode Golden Week berlangsung.

  • Brent: naik hampir 4% ke USD101,50 per barel
  • WTI: menguat 2% ke USD92,54 per barel
  • Produk yang disetop: diesel, gasoline, jet fuel
  • Pengecualian ekspor: hanya Hong Kong dan Makau
  • Periode berlaku: sepanjang Oktober 2026

Yang Perlu Dicermati Investor

Saham-saham sektor energi dan komoditas berpotensi menikmati sentimen positif dari kenaikan harga minyak. Sebaliknya, emiten transportasi dan industri yang bergantung pada solar menghadapi risiko kenaikan biaya bahan bakar.

Bagi pasar obligasi, kenaikan harga minyak dapat memperkuat ekspektasi inflasi global dan menahan ruang penurunan suku bunga bank sentral. Investor perlu mencermati apakah China memperpanjang kebijakan ini setelah Golden Week berakhir atau hanya bersifat sementara.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top