Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus US$ 3,55 Miliar, Ekspor Naik 6,72%

Penulis: Edi Wahyono  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 08:34:31 WIB
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026.

SULAWESI UTARA — Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, berbalik dari defisit dua bulan sebelumnya. Surplus ditopang ekspor nonmigas yang mencapai US$ 6,09 miliar, sementara impor melonjak 19,09% secara tahunan. Angka ini memperpanjang pemulihan setelah Mei–Juni 2026 sempat defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Agustus 2026 mencapai US$ 26,61 miliar, naik 6,72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara nilai impor tercatat US$ 23,06 miliar, tumbuh 19,09% secara tahunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan surplus bulan lalu murni ditopang komoditas nonmigas, sedangkan sektor migas masih menekan kinerja dagang.

"Neraca perdagangan pada kondisi Agustus tahun 2026 mengalami surplus sebesar US$ 3,55 miliar," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).

Nonmigas Jadi Penopang, Migas Masih Defisit

Surplus komoditas nonmigas Agustus 2026 tercatat US$ 6,09 miliar. Tiga komoditas utama penyumbangnya adalah lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sebaliknya, neraca perdagangan migas mengalami defisit US$ 2,54 miliar. Komoditas hasil minyak dan minyak mentah menjadi penyumbang defisit terbesar.

"Disebabkan oleh surplus komoditas non migas, tercatat surplusnya komoditas non migas sebesar US$ 6,09 miliar, penyumbang surplus adalah lemak dari minyak nabati, kemudian bahan bakar mineral, dan komoditas besi dan baja," beber Ateng.

Rekor 72 Bulan Sempat Terputus di Mei 2026

Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit tersebut mengakhiri tren surplus yang berlangsung 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga April 2026.

Defisit berlanjut pada Juni 2026 sebesar US$ 450,5 juta, membuat Indonesia defisit dua bulan beruntun. Neraca dagang baru berbalik surplus pada Juli 2026 sebesar US$ 120 juta, lalu melonjak menjadi US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026.

Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 7,25 miliar. Capaian ini masih jauh di bawah kinerja tahun-tahun sebelumnya yang rutin mencetak surplus bulanan di atas US$ 2 miliar.

Tekanan Impor Melonjak Jadi Catatan

Lonjakan impor 19,09% secara tahunan menjadi sinyal permintaan domestik yang menguat. Namun laju impor yang lebih cepat dari ekspor (6,72%) berpotensi menggerus surplus ke depan jika tidak diimbangi kenaikan ekspor.

Bagi pelaku pasar, surplus Agustus 2026 memberi ruang bagi stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat posisi cadangan devisa. Investor obligasi biasanya mencermati data ini karena surplus dagang berkorelasi positif dengan arus masuk ke Surat Berharga Negara (SBN).

Pemerintah dan Bank Indonesia masih perlu mewaspadai harga komoditas global, terutama minyak mentah, yang bisa memperlebar defisit migas pada bulan-bulan berikutnya.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top