SULAWESI UTARA — Perum Bulog menyatakan telah menyalurkan hampir 60 ribu ton beras premium ke pasar dalam sekitar dua minggu, termasuk melalui jaringan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret. Klaim itu muncul setelah sejumlah gerai di Bekasi dilaporkan kehabisan stok beras premium kemasan 5 kilogram selama lebih dari sebulan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani membantah anggapan bahwa beras premium masih langka di jaringan ritel modern. Ia menyebut perseroan sudah menggelontorkan hampir 60 ribu ton beras premium dari Sabang hingga Merauke, dengan sebagian mengalir ke gerai ritel besar.
Rizal menegaskan Bulog telah meneken perjanjian pasokan dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Ia juga mengaku mengecek langsung ketersediaan beras di sejumlah gerai di Semarang dan Kendal, Jawa Tengah.
"Enggak, kita sudah produksi sesuai dengan.. bahkan sudah buat perjanjian dengan teman-teman Aprindo. Semua ritel-ritel modern kita dukung. Kemarin kami baru pulang dari Semarang, ngecek di Semarang. Bahkan di Kendal kami cek pabrik penggilingan kami yang di Semarang itu per hari bisa 30 ton (penyaluran beras)," ujar Rizal di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (29/9).
Rizal menyatakan pengecekan dilakukan ke sejumlah jaringan ritel, termasuk Alfamart, Indomaret, hingga swalayan swasta lainnya. Menurutnya, beras premium produksi Bulog sudah tersedia di gerai-gerai tersebut.
Klaim itu berbanding terbalik dengan pantauan di lapangan. Di salah satu Alfamart Jatiasih, Bekasi, stok seluruh merek beras premium kemasan 5 kilogram kosong dan disebut telah berlangsung sekitar dua bulan.
Pegawai minimarket, Mulyana, menyebut stok belum kembali karena belum ada kiriman dari pusat distribusi. Ia memperkirakan harga beras berpotensi naik sekitar Rp5.000 hingga Rp10 ribu saat stok kembali tersedia.
Kondisi serupa ditemukan di salah satu Indomaret di wilayah yang sama. Rak beras di dekat kasir terlihat kosong, dan pegawai menyebut stok beras premium telah habis lebih dari sebulan. Hingga berita ini diturunkan, manajemen Alfamart dan Indomaret belum memberi penjelasan resmi.
Bulog masih mengejar sisa target penyaluran beras premium sebanyak 300 ribu ton sesuai perintah pemerintah. Sebelumnya, sebanyak 110 ribu ton disebut telah disalurkan per 5 September.
Untuk mempercepat pasokan, Bulog melibatkan sekitar 868 penggilingan padi yang mampu memproduksi beras premium. Rizal menyebut pihaknya tidak hanya menggandeng penggilingan besar seperti Wilmar dan Topi Koki, tetapi juga penggilingan kecil hingga menengah.
"Perintah Pak Menteri kan mintanya 300 ribu (ton). Kami lagi ngejar ini. Makanya kami melibatkan sekitar 868 penggilingan-penggilingan padi yang mampu membuat beras premium. Bukan penggilingan-penggilingan besar kayak Wilmar saja, Topi Koki, dan lain sebagainya, tapi penggilingan-penggilingan kecil yang menengah ke atas yang mampu membuat beras premium kita libatkan," ujarnya.
Rizal menjelaskan beras premium yang disalurkan Bulog berbeda dengan beras program stabilisasi yang mendapat subsidi pemerintah. Beras premium itu merupakan beras komersial yang dibeli Bulog dari gabah hasil komersial, bukan dari anggaran public service obligation (PSO).
"Yang namanya beras premium itu tidak ada subsidi, ya. Jadi beras premium yang dibuat Bulog adalah beras komersialnya Bulog. Jadi Bulog belinya bukan pakai beras PSO, bukan beras yang subsidi, tapi beras kita beli gabah-gabah hasil komersial," ujarnya.
Pemisahan skema komersial dan subsidi ini penting bagi pelaku pasar karena menentukan struktur harga di ritel modern. Beras premium komersial tidak terikat pagu subsidi, sehingga harganya bergerak mengikuti biaya gabah dan distribusi.
Berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga rata-rata nasional beras premium pada Selasa (29/9) tercatat Rp15.680 per kilogram. Angka itu 5,23 persen di atas harga eceran tertinggi (HET) pemerintah sebesar Rp14.900 per kilogram, atau setara Rp74.500 untuk kemasan 5 kilogram.
Selisih harga di atas HET menjadi sinyal bahwa pasokan di tingkat ritel belum sepenuhnya normal, meski Bulog mengklaim penyaluran berjalan. Bagi konsumen, kekosongan rak berarti mereka harus mencari alternatif di pasar tradisional atau beralih ke merek lain dengan harga lebih tinggi.
Bagi pelaku ritel, ketidakpastian pasokan beras premium berpotensi mengganggu penjualan kategori staples yang selama ini menjadi penarik kunjungan ke gerai. Sejumlah analis ritel menilai kecepatan distribusi dari penggilingan ke pusat distribusi akan menentukan apakah rak beras kembali terisi dalam beberapa pekan ke depan.