Listrik PLN 24 Jam Menyala di Desa Patialo, 108 Keluarga Akhiri Era Lampu Teplok

Penulis: Dedi Supriadi  •  Selasa, 29 September 2026 | 11:03:01 WIB
Warga Desa Patialo kini menikmati pasokan listrik PLN selama 24 jam melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Kementerian ESDM.

SULAWESI UTARA — Sebanyak 108 kepala keluarga di Desa Patialo, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, kini menikmati listrik PLN selama 24 jam penuh melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Kementerian ESDM. Selama bertahun-tahun, warga desa yang berjarak 7 kilometer dari jalan utama kecamatan itu bergantung pada lampu teplok dan jaringan listrik swadaya yang kerap padam. Masuknya listrik negara membuka peluang baru bagi anak-anak desa untuk belajar dan warga mengembangkan ekonomi lokal.

Paragraf pembuka: Program BPBL yang digulirkan Kementerian ESDM menjangkau Desa Patialo setelah bertahun-tahun desa di balik bukit itu hanya mengandalkan penerangan seadanya. Bupati Mandailing Natal Saipullah Nasution menyebut pasokan listrik stabil sebagai fondasi utama bagi warga untuk merencanakan kegiatan ekonomi. Kehadiran listrik negara juga menjadi penanda bahwa desa terpencil di kawasan 3T mulai tersambung dengan wilayah lain di Indonesia.

Dari Lampu Teplok ke Jaringan PLN

Sebelum listrik PLN masuk, malam di Desa Patialo nyaris tanpa aktivitas. Anak-anak belajar membaca dan berhitung di bawah cahaya lampu teplok, sementara kegiatan mengaji bergantung pada pasokan minyak tanah yang tidak selalu tersedia.

Nurlina Lubis, guru ngaji di desa itu, mengingat bagaimana kegiatan belajar terpaksa berhenti ketika minyak tanah habis. "Dulu ngaji di sini pakai lampu teplok. Kalau mati lampu atau minyak tanah habis, anak-anak jadi tidak bisa mengaji lagi. Mereka sedih," ujarnya.

Warga sempat membangun jaringan listrik swadaya dari kincir air atau PLTMH. Namun pasokan energinya terbatas dan jaringan internet yang menyertainya sering terputus, terutama saat dibutuhkan untuk pembelajaran daring.

Perjuangan Anak Desa Menembus Kairo

Keterbatasan listrik dan internet dirasakan betul oleh Asmaul Husna, putri asli Patialo yang meraih beasiswa ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Saat mempersiapkan kuliah, ia harus mengikuti pembelajaran daring dengan koneksi yang kerap putus.

"Dulu, kami belajar membaca dan berhitung menggunakan lampu teplok. Setelah ada listrik dari kincir air, kami mulai bisa memakai wifi, tapi jaringannya sering terputus-putus, apalagi saat saya harus belajar lewat Zoom," tutur Husna.

Kisah Husna menjadi gambaran bagaimana akses energi menentukan sejauh mana anak desa bisa mengejar pendidikan. Listrik yang stabil membuka ruang belajar yang lebih luas, termasuk bagi mereka yang harus mengikuti kelas jarak jauh.

Harapan Baru dari Pekebun Kayu Manis

M. Jamil Lubis, pekebun kayu manis di Desa Patialo, menyampaikan rasa syukurnya karena desanya kini setara dengan wilayah lain di Indonesia. "Sebagai warga Desa Patialo, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah membantu sehingga listrik PLN bisa masuk ke desa kami," ujar Jamil.

Kayu manis menjadi salah satu komoditas andalan warga Mandailing Natal. Dengan listrik yang menyala penuh, peluang membuka usaha rumahan, memperluas pemasaran, hingga mengolah hasil kebun lebih lanjut menjadi lebih terbuka.

Bupati Saipullah Nasution menegaskan listrik stabil memungkinkan warga merancang kegiatan ekonomi jangka panjang. Ia juga menyebut program ini merupakan instruksi Presiden Prabowo Subianto yang dijabarkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Komitmen PLN di Wilayah 3T

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan listrik adalah fondasi pembangunan yang membuka akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, dan menggerakkan ekonomi lokal. "Karena itu, PLN akan terus menjalankan amanah Pemerintah untuk menghadirkan listrik yang andal hingga ke pelosok negeri agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati manfaat pembangunan secara merata," tuturnya.

Direktur Distribusi PLN Arsyadany Ghana Akmalaputri menambahkan, medan berbukit dan akses jalan terbatas di Desa Patialo tidak menyurutkan upaya personel PLN. Menurutnya, tantangan geografis justru mendorong perencanaan teknis yang lebih matang.

"Kehadiran listrik di Desa Patialo bukan sekadar menerangi rumah warga, tetapi menghadirkan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk beraktivitas dan berkarya," ujar Arsyadany.

Penutup: Bagi 108 keluarga di Patialo, nyala listrik 24 jam mengubah ritme hidup yang berlangsung bertahun-tahun. Desa yang sebelumnya redup saat malam kini punya ruang lebih luas untuk belajar, mengaji, dan menggerakkan usaha kecil. Perluasan jaringan distribusi ke desa-desa 3T lain menjadi pekerjaan rumah berikutnya bila pemerataan akses energi ingin benar-benar tercapai.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: segmennews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top