SULAWESI UTARA — Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak di kisaran Rp17.971/US$ pada Senin (28/9/2026) pagi, tertekan kenaikan harga minyak mentah dan ekspektasi inflasi September yang meninggi. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi bulan ini mencapai 3,3% year on year (yoy), naik dari 3,19% yoy pada Agustus. Tekanan bertambah dari data neraca perdagangan yang diperkirakan menunjukkan ekspor melambat tajam.
Bloomberg Economics memproyeksikan laju inflasi Indonesia terus menguat hingga berpotensi menembus batas atas target Bank Indonesia yang dipatok 1,5%–3,5%. Pemicu utamanya adalah harga energi yang melambung dan mulai merambat ke harga barang dan jasa inti. Subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah menahan sebagian dampak, tetapi tidak sepenuhnya meredam tekanan.
Risiko El Nino menambah beban prospek inflasi ke depan. Fenomena cuaca itu berpotensi membuat harga pangan semakin meninggi dalam beberapa bulan mendatang.
Tekanan eksternal datang dari pasar energi. Harga minyak mentah Brent naik 1,4% ke US$105,78 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$93,22 per barel. Kenaikan harga minyak global ini menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah di pasar spot awal pekan.
Bagi pelaku pasar, kombinasi harga minyak tinggi dan inflasi yang menguat membatasi ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter. Impor energi yang lebih mahal juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan.
Konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan pertumbuhan impor Agustus mencapai 27,8% yoy, naik dari 27,02% yoy pada Juli. Sebaliknya, ekspor justru melambat tajam dari 6,05% pada Juli menjadi 2,5% pada Agustus.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan eksternal terhadap produk Indonesia melemah. Impor yang tetap tinggi di tengah ekspor yang melambat berpotensi menekan neraca perdagangan dan memperbesar defisit dagang.
Pergerakan rupiah pekan ini akan sangat bergantung pada rilis data inflasi September dan neraca perdagangan Agustus. Jika inflasi benar-benar menembus 3,5%, pasar akan menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga Bank Indonesia.
Perdagangan awal pekan di pasar spot diperkirakan masih dibayangi pelemahan, seiring investor mencermati perkembangan harga minyak dan data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.