Hutama Karya Bangun Integrated Building Bandara Soekarno-Hatta, Operasional Februari 2027

Penulis: Dedi Supriadi  •  Minggu, 27 September 2026 | 08:33:01 WIB
Pekerja beraktivitas di area proyek Integrated Building Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

SULAWESI UTARA — PT Hutama Karya (Persero) menggarap Integrated Building di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, dengan target operasional pada Februari 2027. Fasilitas seluas 18.487 meter persegi di antara Terminal 1 dan Terminal 2 ini dirancang sebagai titik temu antarmoda transportasi dalam satu kawasan. Kehadirannya diproyeksikan memangkas waktu perpindahan penumpang yang selama ini harus berpindah moda secara terpisah.

Paragraf pembuka: Pembangunan berlangsung di tengah aktivitas operasional bandara yang tidak pernah berhenti. Hutama Karya menempatkan proyek ini sebagai bagian dari komitmen mendukung infrastruktur transportasi terintegrasi, dengan luas bangunan mencapai sekitar 60.000 meter persegi. Pj. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Hamdani menyatakan konstruksi menuntut koordinasi ketat, mulai dari pelaksanaan hingga aspek keselamatan dan keamanan.

Menghubungkan Skytrain hingga Angkutan Antarkota

Integrated Building dirancang sebagai simpul perpindahan penumpang dari berbagai moda. Skytrain, Kereta Bandara, kendaraan pribadi, taksi, bus, shuttle bus, hingga angkutan antarkota akan bertemu di satu titik.

Fasilitasnya mencakup area parkir, drop-off dan pick-up, ruang tunggu penumpang, serta area komersial. Bangunan terdiri atas Gedung Sayap Selatan dua lantai dan Gedung Sayap Utara tiga lantai, termasuk mezzanine. Tata ruangnya disusun untuk mengakomodasi pergerakan penumpang, kendaraan, dan perpindahan antarmoda sekaligus.

Material dari Surabaya hingga Beton Sekitar Bandara

Pembangunan memakai besi dan beton sebagai material utama. Pasokan besi didatangkan dari Surabaya, sementara beton dipasok dari wilayah sekitar Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Untuk mengendalikan pekerjaan, Hutama Karya memakai Building Information Modelling (BIM) 5D. Pemodelan digital ini membantu tim melihat keterkaitan antarpekerjaan, mendeteksi potensi clash, serta mengontrol pekerjaan struktur, arsitektur, dan mekanikal, elektrikal, plumbing (MEP). BIM 5D juga dipakai menghitung kebutuhan material utama.

"Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi dan pengendalian pekerjaan yang baik, mulai dari pelaksanaan konstruksi hingga aspek keselamatan dan keamanan. Hutama Karya menerapkan prinsip Quality, Health, Safety, Security, and Environment (QHSSE) untuk menjaga kualitas pekerjaan sekaligus memastikan proses konstruksi berlangsung secara aman dan tertib," ujar Hamdani dalam keterangan tertulis Sabtu (26/9/2026).

Fasad Mega Mendung di Bangunan Modern

Desain bangunan menggabungkan gaya modern-kontemporer dengan unsur budaya lokal. Fasadnya memakai panel Glass-Fiber Reinforced Concrete (GRC) berwarna oranye-terakota bermotif Mega Mendung khas batik Cirebon.

Panel disusun modular dan berlubang, dipadukan dengan void yang menghadirkan ruang hijau di dalam bangunan. Sentuhan ini membedakan Integrated Building dari bangunan bandara yang biasanya tampil serba metalik dan minim ornamen.

Penutup: Bagi penumpang, Integrated Building menjanjikan perpindahan antarmoda yang lebih singkat tanpa harus keluar kawasan bandara. Bagi Hutama Karya, proyek ini menambah portofolio konstruksi di sektor transportasi udara yang pengerjaannya berlangsung di bawah tekanan operasional tinggi.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top