Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Dibuka, 30.000 Buku Kini Diakses Publik

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 26 September 2026 | 08:33:31 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

SULAWESI UTARA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9/2026), membuka akses publik terhadap sekitar 30.000 buku koleksi museum. Perpustakaan ini lahir dari kerja sama Kementerian Kebudayaan dengan Danantara Indonesia Trust untuk mendayagunakan puluhan ribu buku yang sebelumnya belum termanfaatkan optimal. Masyarakat bisa membaca naskah sastra lama hingga terbitan 1859, dengan kuota kunjungan dibatasi 20 orang per jam.

Peresmian ini menandai kerja sama antara Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust dalam memperluas akses pengetahuan serta mendukung pengembangan literasi budaya. Fadli menyebut kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis untuk mendorong perpustakaan dan museum sebagai elemen yang saling melengkapi.

Koleksi Langka hingga Arsip Masa Kolonial

Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengungkapkan sejumlah koleksi unggulan memiliki nilai sejarah penting. Di antaranya arsip dan terbitan Batavia Genootschap, perkumpulan ilmiah pada masa kolonial Belanda, serta karya sastra Jawa Serat Centhini.

Perpustakaan juga menyimpan buku Netherlands Oost-Indië terbitan 1859 dan buku perjalanan karya Dr. S.A. Buddingh. "Sementara ini beberapa koleksi unggulan adalah koleksi arsip dan terbitan Batavia Genootschap, koleksi sastra lama termasuk Serat Centhini, dan terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang berisi kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi," ujar Indira.

Selain buku umum, koleksi perpustakaan mencakup buku internasional, referensi sejarah, serta berbagai terbitan Museum Nasional. Keberagaman koleksi itu diharapkan menopang kegiatan penelitian dan pendidikan di lingkungan museum.

Pencarian Buku Pakai SLiMS dan OPAC

Untuk memudahkan penelusuran, perpustakaan menggunakan Senayan Library Management System (SLiMS) dan katalog daring atau Online Public Access Catalog (OPAC). Pengunjung dapat mencari informasi koleksi melalui sistem tersebut sebelum datang ke lokasi.

Fasilitas pendukung turut disiapkan, mulai dari ruang baca, layanan informasi, ruang rapat, hingga loker penitipan barang. Namun, kunjungan tidak bisa dilakukan secara bebas tanpa pengaturan.

Kuota 20 Orang per Jam demi Kelestarian Koleksi

Pengelola menerapkan batas maksimal 20 pengunjung setiap jam. Masyarakat wajib mendaftar daring untuk memilih jadwal berdasarkan ketersediaan sesi. Pembatasan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian koleksi, terutama buku dan dokumen bersejarah yang rentan rusak.

Fadli menilai keberadaan perpustakaan memperkuat fungsi Museum Nasional sebagai pusat penelitian, dokumentasi, dan pembelajaran sejarah serta kebudayaan Nusantara. "Buku-buku yang ada, 30.000 buku, tanpa kolaborasi ini, mungkin tidak bisa di-display atau dimanfaatkan dengan baik. Kolaborasi strategis ini mendorong perpustakaan dan museum sebagai elemen yang saling melengkapi," kata Fadli.

Lewat skema kunjungan terjadwal, warisan budaya di Perpustakaan Danantara tidak hanya tersimpan sebagai koleksi, tetapi juga dapat diteliti dan dimanfaatkan masyarakat luas.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top