SULAWESI UTARA — Paten baru Tesla di USPTO memperlihatkan sayap aerodinamis aktif yang tidak cuma menambah downforce, tapi juga bisa menutup otomatis saat sistem mendeteksi risiko tabrakan. Teknologi ini diprediksi debut di Roadster generasi kedua yang dijadwalkan meluncur 1 Oktober di lokasi uji SpaceX, Texas. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar masuk produksi atau cuma eksperimen desain?
Dokumen paten yang baru dipublikasikan di United States Patent and Trademark Office (USPTO) menunjukkan sebuah coupe dua pintu dengan sayap belakang lipat. Sayap itu tidak sekadar hiasan, melainkan komponen aerodinamis aktif yang bisa berubah posisi sesuai kondisi berkendara.
Detail paten ini muncul beberapa pekan sebelum Tesla dijadwalkan memperkenalkan Roadster generasi kedua di lokasi uji SpaceX, Texas, pada awal Oktober. Mobil ini sudah hampir satu dekade sejak pertama kali dipamerkan sebagai prototipe pada 2017.
Dalam terminologi otomotif, spoiler dan wing punya fungsi berbeda. Spoiler mengatur aliran udara untuk keuntungan aerodinamis, sedangkan wing—seperti yang terpasang di buritan Porsche 911 GT3—menghasilkan downforce untuk menambah cengkeraman ban ke aspal.
Paten Tesla ini menggabungkan keduanya. Saat tidak digunakan, sayap menempel rata dengan bodi. Ketika dibutuhkan, sayap bisa memanjang keluar untuk menghasilkan downforce maksimal, atau berputar ke sudut tertentu guna mengurangi hambatan udara saat mobil melaju kencang.
Yang membuatnya berbeda dari sistem serupa di Porsche 911, sayap ini terintegrasi dengan perangkat lunak bantuan mengemudi otomatis. Jika sensor mendeteksi potensi tabrakan, sayap akan menutup otomatis sebelum benturan terjadi.
Ada satu catatan penting dari dokumen ini. Ilustrasi paten menampilkan sayap yang terpasang pada coupe dua pintu, bukan pada konfigurasi atap targa yang selama ini diproyeksikan untuk Roadster.
Artinya, belum ada jaminan teknologi ini akan benar-benar debut di model yang akan diluncurkan Oktober nanti. Paten sering kali mendaftarkan konsep yang lebih luas dari produk finalnya, dan Tesla punya kebiasaan mengajukan paten untuk teknologi yang tidak selalu masuk lini produksi.
Isu lain yang terus menggelinding adalah kemungkinan Roadster dibekali paket SpaceX. Spekulasi ini menyebut adanya sistem thruster gas terkompresi yang bisa mendorong mobil secara instan—sesuatu yang secara teori bisa mempercepat akselerasi di luar batas fisika ban biasa.
Klaim ini terdengar jauh, tapi bukan tanpa preseden. Produsen EV asal China, Dreame, sudah memproduksi mobil dengan dua booster roket bahan bakar padat. Jadi, ide thruster di mobil listrik bukan lagi fiksi murni.
Meski begitu, kemungkinan Roadster bisa terbang—bahkan sebentar—sangat kecil. Yang lebih masuk akal, mobil ini akan hadir dengan sayap aktif seperti yang tergambar di paten.
Tesla belum memiliki kehadiran resmi di Indonesia untuk lini kendaraan penumpang. Model 3 dan Model Y sempat masuk lewat importir umum, tapi Roadster—jika benar diproduksi—hampir pasti tidak akan dijual resmi di sini dalam waktu dekat.
Bagi penggemar otomotif Indonesia, paten ini lebih menarik sebagai gambaran arah teknologi aerodinamis aktif yang mungkin diadopsi merek lain di masa depan. Sistem sayap yang terintegrasi dengan ADAS bisa jadi standar baru di segmen sport EV, mirip bagaimana regenerative braking kini lazim di mobil listrik.
Yang jelas, Tesla belum mengonfirmasi apakah sayap aktif ini akan benar-benar ada di Roadster final. Kita tunggu peluncuran 1 Oktober untuk jawabannya.