Polda Sulawesi Utara mencatat 370 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi itu sejak Januari hingga September 2026 dengan total luas terbakar mencapai 2.653,76 hektare. Dari jumlah tersebut, 2.453,76 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan oleh petugas gabungan. Kepolisian mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat cuaca kering.
MANADO — Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Steidy Raranta menyebut ratusan kejadian karhutla itu tersebar di sejumlah wilayah hukum Polres dan Polresta jajaran Polda Sulut. Angka tersebut dihimpun sejak awal tahun hingga September 2026.
Dari 370 kejadian, luas lahan yang terbakar mencapai 2.653,76 hektare. Sebanyak 2.453,76 hektare di antaranya sudah berhasil dipadamkan, sementara sisanya masih dalam penanganan dan pemantauan petugas di lapangan.
Karhutla di Sulawesi Utara menyebar di beberapa wilayah hukum kepolisian, dari tingkat polres hingga polresta. Kondisi cuaca yang relatif kering mempercepat api meluas, terutama di lahan gambun dan area perkebunan warga.
Polda Sulut menempatkan pemantauan titik api sebagai prioritas. Personel di jajaran terus memantau wilayah rawan dan bergerak cepat begitu menerima laporan adanya titik api.
Steidy menegaskan pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan aparat. Menurut dia, keterlibatan semua pihak menjadi kunci menekan jumlah kejadian.
"Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, terlebih pada kondisi cuaca yang relatif kering karena api dapat dengan cepat meluas," katanya.
Warga juga diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar. Dua aktivitas itu disebut menjadi pemicu umum kebakaran lahan di musim kemarau.
Polda Sulut mengajak masyarakat segera melaporkan jika menemukan kebakaran atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan karhutla. Kecepatan informasi dinilai menentukan luas area yang bisa diselamatkan.
"Kami mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan adanya kebakaran atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan karhutla. Kecepatan informasi dan penanganan sangat penting untuk mencegah api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar," jelas Steidy.
Ia menutup imbauannya dengan pesan menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. "Menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Mari kita cegah karhutla sejak dini demi keamanan masyarakat dan kelestarian alam Sulawesi Utara," ajaknya.
Polda Sulut bersama pemerintah daerah dan instansi terkait masih memperkuat upaya pencegahan serta penanganan karhutla hingga akhir tahun, seiring potensi cuaca kering yang diperkirakan berlanjut di sejumlah wilayah.