Film "Djamin Setia Selamanya" Angkat Strategi Out of the Box Djamin Ginting, Tayang 1 Oktober

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Senin, 21 September 2026 | 14:42:31 WIB
Sutradara Rako Prijanto berbicara dalam konferensi pers film "Djamin Setia Selamanya" di Jakarta.

Film biopik "Djamin Setia Selamanya" mengangkat kisah perjuangan pahlawan nasional Djamin Ginting dengan menonjolkan keberanian mengambil risiko dan strategi di luar kebiasaan. Sutradara Rako Prijanto menyebut sosok asal Tanah Karo, Sumatera Utara, itu relevan dengan tantangan generasi masa kini. Film berdurasi 1 jam 50 menit ini dijadwalkan tayang di layar lebar mulai 1 Oktober.

JAKARTA — Film biopik "Djamin Setia Selamanya" mengangkat kisah perjuangan pahlawan nasional Djamin Ginting, tokoh militer asal Karo, Sumatera Utara, dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sutradara Rako Prijanto menilai sosok Djamin relevan dengan tantangan generasi masa kini. Film ini dijadwalkan tayang di layar lebar mulai 1 Oktober.

Djamin Ginting lahir pada 1921 dan mengenyam pendidikan bentukan Belanda di Handelsschool sebelum menyadari ketidakadilan sistem kolonial. Ia sempat bergabung dengan tentara Gyugun bentukan Jepang demi meraih janji kemerdekaan. Perjalanan hidupnya kemudian mengantar Djamin menjadi tokoh sentral pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Strategi Out of the Box Djamin Ginting

Rako Prijanto mengatakan Djamin Ginting merupakan sosok yang berani keluar dari zona nyaman, mengambil risiko, dan menggunakan strategi yang tidak biasa dalam menghadapi situasinya.

"Dia berpikir visioner, melakukan strategi yang out of the box, dan berani mengambil risiko keluar dari zona nyaman. Pengambilan risiko inilah yang membuat dia menjadi seorang pahlawan nasional," ujar Rako pada konferensi pers di Jakarta, Minggu.

Menurut Rako, keberanian Djamin dalam mengambil keputusan di era peperangan dan sebelum kemerdekaan dapat diterjemahkan ke masa kini. Nilai itu dinilainya menjadi inspirasi bagi masyarakat yang memiliki bentuk perjuangan berbeda.

"Menurut saya ini sangat relevan dengan keadaan kita saat ini juga, bahwa kita pasti ketemu dengan perjuangan kita masing-masing di era saat ini. Hanya bagaimana cara kita menghadapinya dan bagaimana cara kita memanfaatkannya, bagaimana strategi menentukan kesuksesan nantinya. Itu yang ingin saya sampaikan di film ini," imbuhnya.

Belajar Bahasa Belanda Dulu, Kini Pahami Teknologi Digital

Jika Djamin pada masanya belajar bahasa Belanda untuk memahami situasi yang dihadapi, Rako menilai generasi sekarang perlu memahami perkembangan teknologi digital untuk membuka peluang kemajuan. Pesan itu menjadi salah satu benang merah yang ingin disampaikan lewat film.

Kisah Djamin diperankan aktor Rafi Sudirman. Film ini menangkap periode perjuangan Djamin Ginting pada 1945-1948.

Persembahan Anak untuk Orang Tua dan Generasi Mendatang

Riahna Djamin Ginting, anak dari Djamin Ginting, mengatakan film tersebut dibuat sebagai persembahan bagi kedua orang tuanya sekaligus upaya memperkenalkan sejarah perjuangan kemerdekaan kepada generasi mendatang.

"Tujuan kami memang ingin mempersembahkan film ini untuk orang tua kami, meskipun beliau sudah tiada. Saya bercita-cita supaya generasi yang akan datang, generasi Indonesia bisa melihat bagaimana Indonesia waktu itu berjuang-berjuangnya," ujar Riahna.

Ia menyebut film berdurasi sekitar 1 jam 50 menit itu tidak dapat memuat seluruh perjalanan hidup Djamin karena keterbatasan durasi. Meski begitu, Riahna berharap semangat perjuangan tersebut dapat diteruskan dalam konteks Indonesia saat ini.

"Jadi kalau sekarang kita sudah merdeka. Saya minta supaya bisa tidak kita memperjuangkan Indonesia supaya lebih berkembang, lebih merasakan adil dan makmur tersebut," katanya.

Film "Djamin Setia Selamanya" mengisahkan dedikasi pahlawan nasional Letjen TNI (Purn.) Djamin Ginting, seorang pemuda asal Tanah Karo yang menjadi tokoh sentral pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top