2,5 Ton Cabai Probolinggo Kembali Masuk Sulut, 1,2 Ton Disalurkan ke Pasar Bersehati Manado

Penulis: Boyke Sihombing  •  Senin, 21 September 2026 | 11:02:02 WIB
Cabai rawit merah dari Probolinggo dibongkar untuk dibagikan kepada pedagang di Pasar Bersehati, Manado.

MANADO — Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) tahap kedua yang digelar Pemprov Sulawesi Utara bersama Bank Indonesia mendatangkan 2,5 ton cabai rawit merah dari Probolinggo. Pantauan di Pasar Bersehati, Manado, cabai mulai dibagikan kepada pedagang sejak pagi. Total pasokan yang masuk ke Sulut tercatat 84 koli dengan berat sekitar 30 kilogram per koli.

Pasokan tahap kedua ini diprioritaskan untuk lima pasar besar yang tersebar di empat kabupaten/kota, yakni Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Kotamobagu. Jumlahnya sedikit meningkat dibanding FDP tahap pertama yang mendatangkan 2,4 ton cabai.

Mengapa Cabai dari Luar Daerah Kembali Didatangkan?

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Utara, Rahel Rotinsulu, menyebut pasokan cabai dari daerah lokal maupun sentra produksi seperti Gorontalo mengalami penurunan. Kondisi itu yang mendorong pemerintah kembali mengambil pasokan dari luar daerah.

"Untuk tahap dua ini kita masih memprioritaskan lima pasar besar yang ada di kota/kabupaten, yakni Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Kotamobagu. Karena memang yang datang masih terbatas 2,5 ton," kata Rahel.

Menurut Rahel, pasokan dari luar daerah diharapkan menambah ketersediaan cabai sekaligus membantu menyesuaikan harga di tingkat konsumen.

"Kita mengambil dari luar, 2,5 ton. Dengan harapan ini bisa menyesuaikan harga, kemudian menambah pasokan untuk kebutuhan masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.

Kebutuhan Cabai Rawit di Pasar Bersehati Capai 7-8 Ton per Hari

Distributor cabai di Pasar Bersehati, Yasin Gani, mengungkap kebutuhan cabai rawit di pasar tersebut cukup tinggi. Angkanya berkisar 7 sampai 8 ton per hari, sementara kebutuhan Sulawesi Utara secara keseluruhan mencapai 16 sampai 17 ton per hari.

"Untuk kebutuhan cabai rawit di Pasar Bersehati itu di kisaran 7 sampai 8 ton per hari. Kemudian untuk Sulawesi Utara, ini ada sekitar 16 sampai 17 ton per hari," kata Yasin.

Yasin memastikan proses distribusi di Pasar Bersehati dan sejumlah pasar lain berjalan tanpa kendala. Pembagian pasokan tahap kedua disebutnya sudah merata ke seluruh pedagang, dengan empat pasar yang telah terpenuhi.

"Kalau untuk pembagian hari ini memang sudah rata seluruh pedagang yang ada di pasar-pasar. Dan ada beberapa pasar itu, ada empat pasar sudah terpenuhi," ujarnya.

Harga Eceran Dikunci Rp57.000 per Kilogram

Untuk menjaga harga tetap sesuai ketentuan, distributor menetapkan harga cabai hasil FDP sebesar Rp57.000 per kilogram di tingkat pengecer. Ketentuan itu juga berlaku untuk cabai yang didistribusikan ke Minahasa Selatan, Minahasa Utara, dan Kotamobagu.

Yasin menegaskan pihaknya akan menarik kembali barang pedagang yang menjual di atas harga tersebut. Menurut dia, aturan itu sudah menjadi komitmen bersama di lapangan.

"Kalau harga untuk harga Rp57.000. Jadi kami sudah memberikan ultimatum di tingkat pengecer ketika mereka menjual dengan harga yang lebih dari Rp57.000, maka kami akan tarik kembali barang mereka. Ini yang sudah menjadi komitmen kami," tegas Yasin.

Pemerintah Belum Pastikan Jadwal Tahap Ketiga

Rahel mengatakan pemerintah belum dapat memastikan berapa tahapan FDP selanjutnya. Pelaksanaannya akan melihat perkembangan harga cabai, kebutuhan masyarakat, serta ketersediaan anggaran.

"Kita tidak dapat memastikan berapa tahap, cuma yang pasti kita melihat perkembangan yang ada. Nanti kalau memungkinkan untuk ada tahap ketiga, dari BI ataupun dari Bapanas, tetap akan kita coba lakukan," kata Rahel.

Ia menegaskan kebijakan mendatangkan cabai dari luar daerah bukan untuk mengesampingkan petani lokal. Langkah itu diambil untuk menyeimbangkan harga dan menambah pasokan saat produksi daerah menurun.

"Kita tidak, sekali lagi tidak dalam maksud mengesampingkan petani lokal, tetapi kita bermaksud untuk menyeimbangkan harga dan menambah pasokan dari luar serta menekan inflasi Sulawesi Utara," ujarnya.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top