SULAWESI UTARA — Sebanyak 45 negara berkembang telah mengajukan permohonan atau menyatakan minat bergabung dengan BRICS, menurut Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Angka itu diungkapkan Lavrov setelah India menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-18 di New Delhi pada 12–13 September 2026. Lavrov menegaskan tekanan negara-negara Barat, termasuk ancaman tarif dari Amerika Serikat, tidak menyurutkan ketertarikan negara-negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan ketertarikan terhadap BRICS tetap tinggi meskipun Amerika Serikat dan sekutunya gencar menekan negara-negara yang ingin bergabung. Menurut Lavrov, 45 negara telah mengajukan permohonan resmi atau menyampaikan minat, baik sebagai anggota penuh maupun sebagai mitra.
Pernyataan tersebut disampaikan Lavrov setelah KTT BRICS ke-18 yang digelar di New Delhi, India, pada 12–13 September 2026. India menjadi tuan rumah pertemuan puncak itu, sementara Rusia secara terbuka mendukung pencalonan Bangladesh sebagai anggota baru.
Lavrov menyebut ketertarikan negara-negara berkembang mencakup dua jalur keanggotaan. Sebagian negara ingin masuk sebagai anggota penuh, sebagian lain memilih status mitra.
Menurut Lavrov, minat itu muncul karena negara-negara berkembang melihat BRICS sebagai alternatif tatanan global yang tidak didominasi satu blok kekuatan.
"Minat itu ada karena masyarakat memahami bahwa BRICS merupakan prototipe tatanan dunia multipolar di masa depan," kata Lavrov, seperti dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (19/9/2026).
Lavrov menilai tekanan dari negara-negara Barat, termasuk ancaman tarif dari AS terhadap negara yang bergabung dengan BRICS, belum mengurangi minat negara berkembang. Ia menyebut AS secara terbuka menyatakan BRICS sebagai musuh utama kemajuan.
"Saya tidak melihat adanya penurunan minat terhadap BRICS akibat tekanan negara-negara Barat, khususnya AS, yang secara terbuka menyatakan BRICS sebagai musuh utama kemajuan," ujar Lavrov.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa blok ekonomi yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan ini masih menjadi magnet bagi negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan dan perdagangan yang didominasi dolar AS.
Rusia sebelumnya menyatakan dukungan terhadap pencalonan Bangladesh sebagai anggota BRICS. Meski demikian, pengajuan resmi Bangladesh masih dalam tahap pertimbangan para anggota kelompok.
Proses perluasan BRICS menjadi salah satu agenda utama setelah KTT New Delhi. Sejumlah negara dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah disebut tengah menjajaki peluang bergabung, baik sebagai anggota penuh maupun mitra.
Bagi pelaku pasar dan investor, arah perluasan BRICS berdampak pada peta kerja sama perdagangan, mata uang lokal dalam transaksi lintas negara, serta arsitektur keuangan alternatif yang tengah dibangun kelompok ini.