Monster Musim 4 Angkat Kisah Lizzie Borden, Ian Brennan Ungkap Rencana 10 Season

Penulis: Dedi Supriadi  •  Jumat, 18 September 2026 | 21:16:31 WIB

SULAWESI UTARA — Ian Brennan mengungkap rencana besar untuk anthology Monster yang diproduksinya bersama Ryan Murphy, termasuk target 10 season dan pilihan Lizzie Borden sebagai subjek musim keempat. Season terbaru ini tayang di Netflix dengan Ella Beatty sebagai pembunuh berantai perempuan pertama yang jadi fokus cerita. Brennan menyebut kisah Lizzie Borden sebagai subjek paling simpatik yang pernah mereka angkat.

Ian Brennan menyebut proses menulis season terbaru Monster, yang mengangkat kasus Lizzie Borden, seperti mimpi demam. Ia mengaku bagian tersulit dari anthology true-crime Netflix itu bukanlah menulis naskahnya, melainkan memilih siapa yang akan menjadi subjek season berikutnya.

Bersama Ryan Murphy, Brennan mengaku sempat mencoba menggarap kisah Luigi Mangione, tersangka pembunuhan CEO UnitedHealthcare Brian Thompson pada 2024. Namun kasus itu dinilai terlalu baru dan tidak cukup membumi untuk diangkat ke layar.

Murphy kemudian mengusulkan Lizzie Borden, perempuan yang diadili dan dibebaskan atas pembunuhan kapak terhadap ayah dan ibu tirinya di Fall River, Massachusetts, pada 1892. Menurut Brennan, usulan itu langsung terasa tepat.

Lizzie Borden Jadi Pembunuh Perempuan Pertama di Monster

Musim keempat Monster menampilkan Ella Beatty sebagai Borden, aktris pertama yang memimpin anthology ini. Ia beradu akting dengan Charlie Hunnam yang berperan sebagai Andrew Borden, Rebecca Hall sebagai Abby Borden, dan Vicky Krieps sebagai Bridget alias Maggie, housekeeper keluarga.

Krieps memainkan peran ganda, juga sebagai Elizabeth Bathory dalam adegan flashback. Sarah Paulson, muse Murphy, muncul di pertengahan season sebagai Aileen Wuornos.

Brennan menyebut ketiganya membentuk triptych pembunuh berantai perempuan untuk mengeksplorasi amarah perempuan dan "kandang yang kita tempatkan pada perempuan dan hal-hal yang akan mereka lakukan untuk keluar dari kandang itu."

Mengapa Lizzie Borden Disebut Subjek Paling Simpatik

Brennan menjelaskan bahwa kisah Lizzie Borden berkembang menjadi cerita tentang amarah perempuan. Ketiga tokoh perempuan dalam season ini disebut saling mengetahui satu sama lain—Lizzie tahu tentang Elizabeth Bathory, dan Aileen Wuornos tahu tentang Lizzie Borden.

Menurut Brennan, hubungan antarketiganya membuat cerita terasa lebih kontemporer dan relevan. Ia menilai amarah perempuan dan perempuan yang membunuh bukanlah penyimpangan sepanjang sejarah, melainkan benang merah dalam keberadaan manusia dan kehidupan bermasyarakat.

"Kandang yang kita tempatkan pada perempuan dan hal-hal yang akan mereka lakukan untuk keluar dari kandang itu benar-benar menarik," ujar Brennan.

Rencana 10 Season dan Proses Seleksi Subjek

Brennan mengungkap bahwa ia dan Murphy merencanakan total 10 season Monster. Saat ini ada tiga opsi yang masuk daftar pertimbangan untuk season berikutnya.

Ia menyebut daftar kandidat subjek cukup panjang, tetapi proses seleksinya rumit. Banyak subjek yang mulai digarap lalu ditinggalkan karena dinilai tidak cukup menarik.

"Anda meminta orang menghabiskan tujuh, delapan, sembilan, atau 10 jam untuk masuk ke dalam kepala orang ini. Mereka harus benar-benar menarik," kata Brennan.

Brennan menambahkan bahwa sebagian besar pembunuh sebenarnya tidak menarik sama sekali—apa yang mereka lakukan hanya mengerikan. Karena itu, pemilihan subjek pada akhirnya menjadi soal selera.

Ketika ia dan Murphy mulai membicarakan suatu subjek dan topik itu terasa punya gravitasi sendiri, mereka akan mulai tertawa dan tersenyum. "Lalu kami berkata, 'Oh, kami menemukannya,'" ujarnya.

Monster: The Lizzie Borden Story kini dapat disaksikan di Netflix. Anthology ini menjadi salah satu andalan platform tersebut di genre true-crime, dengan setiap seasonnya mengangkat satu sosok pembunuh berantai berbeda.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: hollywoodreporter.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top